Sunday, December 5, 2021

PENTINGNYA BELAJAR MEMPERTAHANKAN KEYAKINAN DIRI - Coretan Inspirasi

pixabay.com

Suatu hari, Nasrudin disuruh istrinya untuk menjual onta pagi-pagi ke pasar. Sayangnya, rencana ini terdengar oleh empat orang penipu. 

Maka keempat itu berunding dan bermufakat untuk memperdaya Nasrudin, Mereka akan mengelabui Nasrudin bahwa hewan yang akan dijualnya bukanlah seekor onta, tapi keledai yang memang harganya jauh lebih murah dibanding harga seekor onta. 

Begitulah, Ketika Nasrudin baru berjalan belum jauh dari rumahnya, salah satu penipu itu sudah menyapa Nasrudin, "Mau dijual berapa keledaimu?" terang saja Nasrudin marah karena ontanya kok dibilang keledai. 

Nasrudin berjalan lagi, lalu bertemu dengan penipu kedua, dan dia bertanya yang sama dengan penipu pertama, "Mau dijual berapa keledaimu?" kali ini, Nasrudin marah dan heran, kok ada dua orang yang bilang bahwa hewan yang dibawanya itu keledai. 

Namun, Nasrudin terus saja tidak melayani orang kedua. Namun belum sampai ke pasar, ia bertemu dengan penipu ketiga dan bertanya seperti penipu pertama dan kedua, 

Maka Nasrudin ragu, jangan-jangan hewan yang dibawanya itu memang keledai, soalnya sudah ada tiga orang yang mengatakan onta yang dibawanya adalah keledai. 

Nasrudin masih melanjutkan perjalannya ke pasar, hingga akhirnya sampai di pintu gerbang pasar. Persis, di gerbang pasar, datanglah penipu ke empat dan menawar onta dan membelinya dengan harga keledai. 

Karena sering diulang-ulang bahwa ontanya adalah keledai, maka akhirnya, Nasrudin pun menjual ontanya dengan harga seekor keledai. 

Pesan : Kesalahan dan kesesatan yang sering diulang-ulang itu lama-lama akan dianggap sebagai kebenaran. Seperti kata Adolf Hitler, "Sebuah kebohongan yang disampaikan seribu kali akan menyebabkan masyarakat menjadi yakin bahwa kebohongan itu adalah sebuah kebenaran." 

Pada saat ini, kita banyak menyaksikan bahwa hal-hal yang dahulunya sangat sakral sekarang tidak lagi menjadi sakral, bahkan cenderung biasa. Banyak orang yang dianggap benar karena ngawur, dan ngawurnya dianggap benar. 

Disini juga kita belajar agar terus istiqamah pada kebenaran yang kita yakini benar, Nasrudin menjual ontanya dengan harga keledai karena tidak istiqamah. 

Kita tidak boleh terpengaruh oleh bisikan provokasi. Ukuran kebenaran itu bukan dari banyaknya orang yang melakukannya, tetapi bersumber dari Allah yang paling benar walaupun hanya satu orang yang menjalankannya. 

Sungguh, tidak ada yang paling benar kecuali kebenaran itu sendiri. Lebih baik kita berjalan seperti kura-kura menuju jalan yang benar (lambat dan istiqamah) daripada berlari rusa tapi menuju jalan yang salah. 

Kita belajar tentang pentingnya mempertahankan identitas diri di tengah globalisasi, memegang prinsip-prinsip kebenaran apa pun risikonya. 

Sumber : (Humor Sehat ala Ustadz - Muhamad Yasir) 

0 comments:

Post a Comment