Wednesday, December 29, 2021

PIKIRAN KITA MENENTUKAN KESUKSESAN - Coretan Motivasi

Pixabay.com

Bentuk dari kesuksesan yang akan kita capai bisa saja dimulai dari cara kita berpikir? Bener gak? Biasanya kita tuh suka merasa bahwa apa yang kita lakukan tidak percaya diri bahwa akan sukses. 

Kita sudah berdoa untuk diwujudkan keinginannya tapi malah kita sendiri yang suka mengatakan "Apa mungkin bisa tercapai?" 

Balik lagi semua memang butuh yang namanya proses tapi kita harus memiliki prinsip dasar untuk mengatasi pikiran-pikiran yang membuat kita tuh gak yakin sama diri sendiri. Apa aja sih? 

Pertama, apa yang dipikirkan itu yang kau pikirkan, itulah yang kau dapatkan. Jadi semakin kita memikirkan bahwa kita itu bakalan bisa melakukannya berusaha semaksimal mungkin dan fokus untuk mewujudkannya. 

Walaupun memang pasti ada tantangannya tapi itu semua tidak khawatir karena kita sudah pegang prinsip tujuan yang kita ingin capai.

Kedua, Pikiranmu menentukan bagaimana kita hidup. yang bisa menjadikan diri kita itu mau kemana atau impian kita itu apa yang diri kita sendiri. 

Kita berhak memilih untuk keinginan yang bakalan kita capai. Hasilnyanya bagaimana itu semua sudah ketentuan yang diatas. Jadi mindset kita harus benar-benar  memilih yang terbaik untuk dijalankan dan diusahakan semaksimal mungkin.

Ketiga, Pikiran yang positif mendatangkan kehidupan yang positif. Kalau kitanya ingin menjadi baik yang kita harus berada di lingkungan atau keseharian yang selalu positif. 

Ibarat kita ingin mendapatkan jodoh yang terbaik ya kita harus memperbaiki diri dan selalu berdoa untuk mendapatkan jodoh yang terbaik. Pikirkan yang membuat diri kita nyaman. 

Keempat, Pikiran yang negatif mendatangkan kehidupan yang negatif. Ya ini tentu saja dimana kita melakukan hal yang buruk dalam diri bakalan kita tuai hal negatif. 

Karena Allah sudah memberikan akal yang sempurna untuk kita pergunakan dan jangan sampai di sia-siakan. 

Harus memulai sekarang juga, kalo hanya direnungkan tapi tidak dijalankan sama saja nothing . Ahli dalam suatu bidang karena terbiasa untuk melakukannya setiap hari. Jangan pantang menyerah, terus berjuang. #Sharing

Sumber : https://www.youtube.com/watch?v=i9BT8ymtc9o

Wednesday, December 8, 2021

REVIEW BUKU | KENALI DIRIMU TEMUKAN TUJUAN HIDUPMU - Penulis Royhan Firdausy


Assalamua'alaikum man teman...
Gimana nih kabarnya? Maaf ya sudah lama banget ga review buku nih. Semoga man teman masih selalu setia untuk menunggu review buku dari mimin hehe (Pede banget).

Ok langsung aja ya. Kali ini aku bakalan review sesuai dengan judulnya. Kebanyakan orang pasti suka bingung sebenarnya kemana sih tujuan hidup di dunia ini. 

Jangankan orang mimin juga kadang gelisah menjalani hidup. Tapi ya balik lagi ga boleh berlarut-larut dalam kegelisahan maupun kesedihan.

Kebetulan nih waktu mimin jalan-jalan ke toko buku untuk melihat buku apa aja sih yang asik untuk dibaca. Kesana-kemari lihat beberapa buku belum ada yang cocok. 

Nah buku ini membuat aku berhenti untuk melihat gimana isi nya. Judulnya yang membuat ketertarikan aku membaca synopsis buku ini. Apa sih synopsisnya?

Setiap manusia pada hakikatnya memiliki tujuan hidup. Tanpa tujuan hidup, manusia bagaikan berjalan tanpa arah, bisa tersesat atau terus menerus dalam kesulitan. 

Allah Subhana Wa Ta'ala menciptakan manusia dan makhluk lainnya tidak sia-sia, yang berarti ada maksudnya.

Untuk mengetahui tujuan hidup yang sejati, manusia perlu mengenal dan belajar banyak hal. Dan, hal paling utama yanng harus dikenali adalah diri sendiri. Siapa kita? Dari mana asal kita? lalu untuk apa kita hidup di dunia ini?

Nah jawaban atas pertanyaan-pertanyaan mendasar dan penting tersebut ada dalam buku ini. 

Man teman cocok banget buku ini untuk menjadi renungan kita bahwa hidup kita ini mau kemana sih, tujuannya kita hidup untuk apa? beberapa jawaban ada di dalam buku ini.

Oia bagian bab yang aku suka yang tentang :

SURGA UNTUK SIAPA?

Tempat yang digambarkan penuh kenikmatan itulah yang diperebutkan oleh banyak manusia. Bahkan, tidak sedikit, dari kita yang merasa menjadi penghuninya. 

Perasaan seperti ini tidak masalah. Namun, problemnya adalah ketika menganggap diri kita ahli surga sementara orang lain ahli neraka.

Karena itu, mari kita merenung sejenal, sebenarnya surga itu milik siapa dam untuk siapa?

Amal saleh adalah salah satu garansi penting kita untuk bisa masuk surga. Meski demikian, ia tidak menjadi jaminan pasti tanpa disertai rahmat Allah. 

Di dalam Al Quran banyak diungkapkan perihal amal-amal yang dapat mengantarkan pada surga. Salah satunya adalah dengan bertakwa.

Allah Subhana Wa Ta'ala, menjadikan surga sebagai bagian dari tujuan manusia kelak. Allah mendeskripsikan  perbuatan-perbuatan yang dapat mengantarkan manusia menuju surga yang mencakup nilai-lai ketuhanan dan kemanusiaan.

Misalnya, menafkahkan harta baik dalam kondisi sempit maupun lapang, artinya berbuat baik dalam bentuk materi, itu pun dilakukan tidak hanya menunggu saat seseorang kaya tetapi juga saat kondisi sulit. Dalam situasi apa pun, seseorang dianjurkan untuk mendermakan hartanya.

Untuk mendapatkan surga juga, seseorang dituntut mampu mengendalikan amarahnya dan mudah memaafkan kesalahan orang lain, bahkan mampu membalas keburukan dengan kebaikan. 

Puncaknya, hendaklah senantiasa meminta ampun kepada Allah Subhana Wa Ta'ala  atas segala perbuatan keji atau buruk yang dilakukan selama di dunia.

Demikianlah beberapa amal yang dapat mengantarkan seseorangmenjadi bagian dari penghuni surga Allah Subhana Wa Ta'ala. Namun, amal-amal itu semua bukanlah penyebab utamanya. 

Perbuatan baik yang dilakukan di dunia akan menjadi sia-sia jika rahmat Allah tidak diberikan kepada kita.

Karena itu, dalam hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, Rasulullah Saw, bersabda, "Tidaklah masuk surga seseorang karena amalnya." Sahabat bertanya, "Sekalipun Anda, wahai Rasulullah?" Beliau menjawab, "Ya, sekalipun aku, kecuali dengan curahan keutamaan dan rahmat Allah."

Lantas, untuk apa amal-amal itu semua jika belum menjadi jaminan? Bukankah di dalam Al Quran dijelaskan bahwa surga diberikan karena perbuatan kita di dunia?

Surga sejatinya berada di antara pengampunan dan kasih sayang Allah Swt. Namun, untuk menuju pada dua hal itu manusia dituntut untuk beramal sebanyak-banyaknya. 

Jadi, jangan terlalu mudah meyakinkan diri kita sebagai penghuni surga karena ibadah kita. Sebab, hal ini dapat melahirkan benih-benih kesombongan dalam jiwa kita. 

Karena itu, teruslah beramal dan menebar kebaikan agar rahmat serta ampunan-Nya selalu tercurahkan untuk kita.

Salah satu bab yang aku suka kalo semuanya ditulis ga bakalan muat, buku ini banyak di toko buku tapi kalau kemarin aku beli biasa ya di Gramedia. Semoga bermanfaat :)

Sunday, December 5, 2021

YAKINLAH DOA PASTI DIKABULKAN - Inspirasi dari Hanan Attaki

pixabay.com

Kalau kemauan kita banyak, mau punya rumah, mau punya mobil, naik haji, apapun keinginan kita. Kita tuh harus benar-benar yakin bahwa Allah akan mengabulkan. 

Kapan? tunggu waktunya, jangan malah menyerah kalau sampai saat ini belum juga terwujud. Allah ingin melihat kesungguhan hambanya dalam memperjuangkan apa yang diinginkan. 

Tambahin lagi ibadahnya, doanya dan melakukan kegiatan yang di ridhoi Allah. Kalau bukan diri kita yang yakin dan percaya siapa lagi?

"Kebayang gak begitu berdoa langsung Allah menunjukkan keajaiban, kita kadang pengen aja gak berani ya? Karena kita gak percaya bisa. Kita mau mengatakan pengen itu aja kita gak berani, karena menganggap itu gak realistis. 

Ah, masa sih bisa? Bisa kalau kita yakin kepada Allah. Kalau kita gak yakin kita gak bisa, kalau kita ragu bahwa Allah bisa menunjukkan ajaib kepada kita dalam hitungan detik. 

Trus kemana kalimat kun fa yakun masalahnya kita gak yakin untuk bilang pengen begitu aja langsung Allah kabulkan itu aja kita ragu. Kenapa? Karena kita gak percaya itu bisa terjadi. Padahal kalau kita yakin itu bakalan terjadi, Said Ust Hanan Attaki."

Ubah pola pikiran kita bahwa keyakinan untuk berhasil itu besar karena ada Allah yang menolong kita. 

Kalo gagal wajar saja kita lagi dikasih pengalaman dan dikuatkan mentalnya untuk terus berusaha menjadi lebih baik. Coba lagi dan terus coba untuk mendapatkan hasil yang terbaik. #Sharing

(Sumber Youtube : https://www.youtube.com/watch?v=XfHZ6U14bqQ)

YAKIN AJA REZEKI SUDAH DI JAMIN SAMA ALLAH - Inspirasi dari Hanan Attaki

pixabay.com

Merasa bahwa hidup kita tidak ada perubahan, melihat orang lain sudah banyak yang sukses. Sudah bekerja sekeras mungkin tetap saja dapatnya hanya seadaanya.  

Jangan pernah berpikiran seperti kata-kata seperti itu, karena kita sebagai manusia hanya disuruh beribadah dan berusaha untuk mencapai apa yang kita inginkan. Bukan malah mengeluh ketika hasil yang didapatkan tidak sesuai dengan keinginan kita. 

"Allah tau dimana rezeki kita disimpan, Allah tau kemana kita akan membelanjakan rezeki itu. Semuanya tertulis di kitab yang jelas Allah yang tau. Allah yang menjamin. Gak ada yang ga di jamin rezekinya. Cuma kadang-kadang atau seringnya kita gak tau cara itu taunya hasilnya aja.

Tiba-tiba dapat sesederhana itu kita berpikir, sesederhana itulah syukur kita ke Allah. Tapi kalau kita tau, yaAllah, MasyaAllah, Alhamdulillah atas semua nikmat yang engkau berikan puji-puji Allah.

 Artinya kalau tentang rezeki dari Allah, tentang pekerjaan, tentang kuliah segala macam termasuk tentang jodoh ikhtiarnya jalan aja terus. 

Hati kita yakin Allah yang menjamin. Makin kita yakin sama Allah, begitu kita ingat Allah itu semakin lebih ngaruh ke hati kita. 

Tapi kalau kita sebut nama Allah gak yakin, cuma sekedarnya aja cuma di lisan saja tapi tidak sampai ke hati itu kurang berpengaruh." Said Ust Hanan Attaki."

Jadi jangan khawatir soal rezeki bukan tentang banyak ataupun sedikitnya tapi bagaiman akita bersyukur atas rezeki yang diberikan Allah. Semakin kita terus bersyukur, semakin tenang hidup kita dan berkah dalam mendapatkannya. #Sharing

Sumber Youtube : https://www.youtube.com/watch?v=qCkIBVystI4

PENTINGNYA BELAJAR MEMPERTAHANKAN KEYAKINAN DIRI - Coretan Inspirasi

pixabay.com

Suatu hari, Nasrudin disuruh istrinya untuk menjual onta pagi-pagi ke pasar. Sayangnya, rencana ini terdengar oleh empat orang penipu. 

Maka keempat itu berunding dan bermufakat untuk memperdaya Nasrudin, Mereka akan mengelabui Nasrudin bahwa hewan yang akan dijualnya bukanlah seekor onta, tapi keledai yang memang harganya jauh lebih murah dibanding harga seekor onta. 

Begitulah, Ketika Nasrudin baru berjalan belum jauh dari rumahnya, salah satu penipu itu sudah menyapa Nasrudin, "Mau dijual berapa keledaimu?" terang saja Nasrudin marah karena ontanya kok dibilang keledai. 

Nasrudin berjalan lagi, lalu bertemu dengan penipu kedua, dan dia bertanya yang sama dengan penipu pertama, "Mau dijual berapa keledaimu?" kali ini, Nasrudin marah dan heran, kok ada dua orang yang bilang bahwa hewan yang dibawanya itu keledai. 

Namun, Nasrudin terus saja tidak melayani orang kedua. Namun belum sampai ke pasar, ia bertemu dengan penipu ketiga dan bertanya seperti penipu pertama dan kedua, 

Maka Nasrudin ragu, jangan-jangan hewan yang dibawanya itu memang keledai, soalnya sudah ada tiga orang yang mengatakan onta yang dibawanya adalah keledai. 

Nasrudin masih melanjutkan perjalannya ke pasar, hingga akhirnya sampai di pintu gerbang pasar. Persis, di gerbang pasar, datanglah penipu ke empat dan menawar onta dan membelinya dengan harga keledai. 

Karena sering diulang-ulang bahwa ontanya adalah keledai, maka akhirnya, Nasrudin pun menjual ontanya dengan harga seekor keledai. 

Pesan : Kesalahan dan kesesatan yang sering diulang-ulang itu lama-lama akan dianggap sebagai kebenaran. Seperti kata Adolf Hitler, "Sebuah kebohongan yang disampaikan seribu kali akan menyebabkan masyarakat menjadi yakin bahwa kebohongan itu adalah sebuah kebenaran." 

Pada saat ini, kita banyak menyaksikan bahwa hal-hal yang dahulunya sangat sakral sekarang tidak lagi menjadi sakral, bahkan cenderung biasa. Banyak orang yang dianggap benar karena ngawur, dan ngawurnya dianggap benar. 

Disini juga kita belajar agar terus istiqamah pada kebenaran yang kita yakini benar, Nasrudin menjual ontanya dengan harga keledai karena tidak istiqamah. 

Kita tidak boleh terpengaruh oleh bisikan provokasi. Ukuran kebenaran itu bukan dari banyaknya orang yang melakukannya, tetapi bersumber dari Allah yang paling benar walaupun hanya satu orang yang menjalankannya. 

Sungguh, tidak ada yang paling benar kecuali kebenaran itu sendiri. Lebih baik kita berjalan seperti kura-kura menuju jalan yang benar (lambat dan istiqamah) daripada berlari rusa tapi menuju jalan yang salah. 

Kita belajar tentang pentingnya mempertahankan identitas diri di tengah globalisasi, memegang prinsip-prinsip kebenaran apa pun risikonya. 

Sumber : (Humor Sehat ala Ustadz - Muhamad Yasir)