Sunday, July 4, 2021

HIKMAH PEMUDA YANG DIPECAT DARI PEKERJAAN - Coretan Inspirasi

Freepik.com

Jika suatu saat Allah menguji kita dengan berbagai macam permasalahan hidup, maka kembalilah kepada-Nya. 

Karena Allah tidak akan memberi ujian yang tidak bisa diselesaikan oleh hamba-hamba-Nya. Mintalah kepadanya agar diberi kesabaran, ketabahan, dan kebesaran hati untuk menghadapi ujian yang diberikan-Nya.

Mintalah kepada-Nya agar senantiasa diberi semangat yang tidak kunjung menyerah sebelum meraih pemecah dari permasalahan tersebut. Mendekatlah kepada-Nya karena Insya Allah kita akan menemukan jalan keluar dari kebuntuan yang kita alami. 

Kisah seorang pemuda bernama Hasan yang memiliki sifat yang tegar dan yakin akan pertolongan Allah meskipun Allah mengujinya dengan berbagai ujian, termasuk kemiskinan.

Suatu saat kami menemukan Hasan sedang berdoa khusyuk kepada Allah. Matanya berlinangan air mata, lisannya terus-menerus berucap meski hanya Allah dan dirinyalah yang tahu. 

Bagi kami menjadi biasa ketika seseorang khusyuk dan berada dalam hidup berkecukupan, tapi menjadi luar biasalah ketika seseorang khusyuk kepada Allah saat dirinya ditimpa berbagai ujian oleh Allah.

Hasan, salah satu mantan karyawan di kantor kami yang "dirumahkan" karena kesalahpahaman. Beberapa karyawan sudah mencium gelagat buruk dari beberapa oknum yang menjadikan Hasan sebagai kambing hitam masalah. 

Hasan dituduh telah mencuri uang THR yang disimpan di laci meja kantor. Alasan ini menjadi rasional ketika dialah satu-satunya orang yang berada di dalam kantor di saat semua karyawan sudah pulang ke rumahnya masing-masing.

Berulang kali Hasan mengutarakan bahea dia tidak mengambil uang tersebut sepeser pun. Saat teman-temannya mencoba menanyakan kepada Hasan, maka dengan rendah hati beliau menjawab, 

"Hasan bersyukur kepada Allah kang, selama ini Hasan tidak pernah sedikit pun tergerak untuk mengambil uang orang lain, meskipun dua anak di rumah membutuhkan susu dan istri sedang mengandung anak ketiga." 

Beberapa rekannya mengumpulkan uang sukarela untuk membantunya. Mendengarnya, Hasan menunduk dengan terbata mengucapkan,

"Disimpan saja dulu mas, bukan berarti Hasan sombong dan menolak keikhlasan teman-teman, namun izinkan Hasan bermunajat kepada Allah dan berusaha sekuat tenaga Hasan hingga Allah memberikan rezeki yang halal bagi Hasan."

Hasan bukan hanya yakin menyerahkan sepenuhnya kepada Allah tapi juga berusaha untuk mencukupi kebutuhannya dari usaha hasil keringatnya sendiri. Hingga suatu saat Hasan menangis di hadapan Rabb-Nya. Istrinya yang mengandung sudah mendekati masa kelahiran.

Dia tidak tahu harus ke mana lagi mencari sepeser uang untuk membayar perawatan, kalaupun berutang dia juga tidak tahu bagaimana cara mengembalikannya.

Bekerja 24 jam pun tidak mampu memenuhi kebutuhan hidupnya. Kondisinya labil tersungkur di atas sejadah yang terbentang, hingga akhirnya Hasan memutuskan untuk mengaji dan membaca Qur'an dengan tartil yang merdu dan sejuk di hati.

Hasan memilih surah Ar Rahman, seraya menguatkan dirinya untuk bangkit, karena Allah tidak pernah mendustakan janji kepada siapa pun yang yakin atas kebesarannya. Bait per bait, kata per kata dilatunkan dengan tulus menenangkan hatinya, hingga suatu saat datanglah seorang bapak mengambil duduk tepat di sampingnya.

"Nak, suara Anda merdu dan menenangkan hati siapa pun yang mendengarnya. Bapak kagum dengan ananda, saya Pak Robert," laki-laki tua itu mengulurkan tangannya. Hasan menyambutnya dengan salam dan cium tangan yang khas dia lakukan kepada orang yang lebih tua.

"Saya seorang mualaf nak, sudah dua minggu saya dan keluarga saya memutuskan untuk berikrar kepada Allah dan Rasulnya, kami membutuhkan seseorang yang mampu mengajarkan kami banyak hal tentang islam, dan menghidupkan nuansa ruamh kami dengan Al-Qur'an dan nuansa keislaman.

Saya memiliki saham dan memimpin perusahaan, segalanya saya miliki, namun kami harus memulai dari nol untuk menjadikan apa yang kami miliki agar mendapatkan berkah dari Allah. Maukah nak Hasan membantu kami?"

Hasan pun meneteskan air mata, menangis, dan menganggukkan kepala dengan senyum yang sudah menjelaskan bahwa dia bersedia untuk membantu laki-laki tua tersebut.

Pak Robert tersenyum dan menepuk pundak Hasan,"Nak Hasan punya keluarga? Jika nak Hasan tidak keberatan, saya menawarkan nak Hasan & keluarga untuk pindah ke rumah saya. 

Mungkin lebih mudah dalam menghidupkan nuansa Islam di rumah kami dan mengajarkan apa saja yang tidak kami tahu tentang islam. 

Saya juga ingin mendirikan koperasi dan mendirikan mushala di kampung dekat rumah bapak tinggal, semoga nak Hasan bisa membantu bapak."

Hasan memeluk sang bapak dengan erat, air matanya tumpah dan terus-menerus mengucap syukur kepada Allah Subhana Wa Ta'ala. Subhanallah, Allah sangat dekat dengan hamba-Nya. Tidak ada jalan buntu yang ada hanyalah jalan terbaik bagi hamba-hamba yang senantiasa terus mendekatkan diri kepada-Nya.

(Sumber : Buku Tuhan Tidak Tidur, Kisah-kisah penuh hikmah Bersyukur atas segala kebesaran-Nya - Havabe Dita Hijratullail, Jimmy Wahyudi Bharata Al-Kalam)

0 comments:

Post a Comment