Thursday, July 8, 2021

IBARAT SEBUAH PENSIL JANGAN PERNAH BERHENTI UNTUK BERSABAR - Coretan Inspirasi

Freepik.com

Bayangkan gerak kesabaran itu sebagaimana sebuah pensil. Sebuah pensil akan sangat berguna dan siap untuk digunakan ketika ujungnya senantiasa runcing. 

Begitu pula kesabaran dalam diri kita, akan selalu siap menghadapi ujian dan akan selalu siap untuk bergerak kembali memikul tanggung jawab ketika senantiasa diasah. 

Bisa jadi ketika digunakan, pensil itu akan tumpul atau mungkin patah karena terlalu keras . tapi dia tidak akan cepat patah ketika digunakan perlahan, tidak cepat rusak jika digunakan dengan hati-hati. Begitu pula dengan kesabaran dalam diri kita.

Kata "sabar" tidak berdiri sendiri sehingga mudah diungkapkan. Di dalamnya ada unsur perencanaan seperti arang yang sudah diformat sesuai panjang pensil, ada unsur kehati-hatian agar tidak lekas tumpul atau patah atau bahkan meruncingkan  kembali.

Karena kalau dalam meruncingkan tergesa-gesa, pada akhirnya bukan pensil yang tajam yang didapat melainkan ketajaman dan cepat patah kembali. 

Ibarat manusia,bagi yang tergesa-gesa menuai hasilnya maka dia tidak akan mendapatkan buah yang optimal dari kesabaran tersebut.

Pensil akan menjadi pendek seiring berjalannya waktu, tapi bukankah dia siap untuk diruncingkan kembali, bahkan di dalam dirinya ada cikal bakal arang yang bila diruncingkan bisa digunakan untuk menulis kembali.

Begitu pula diri kita, adakalanya kesabaran mengendur, kondisi hati dan iman naik turun. Semuanya adalah manusiawi, tinggal seberapa besar kemauan kita untuk menemukan sesuatu yang membuat semuanya kembali siap seperti sediakalanya.

Pensil berhenti digunakan ketika sang penulis memutuskan untuk berhenti menggunakan, sama halnya dengan kesabaran yang pupus setelah hatu akan mengatakan lelah untuk bersabar.

Ada baiknya kita meyakini kesabaran tidak pernah ada batasnya. Meyakini batas kesabaran hanya akan memupuskan semangat kita untuk bersabar. Seperti sekat-sekat yang dibuat tapi tidak ada aturan yang menyuruh sekat itu untuk dibuat.

Janganpernah berhenti untuk bersabar, bukankah pensil masih terus digunakan meskipun banyak media yang lebih canggih untuk menggantikan tugasnya.

Selama dia dirawat maka dia selalu siap digunakan, selama kesabaran ituada dan dirawat maka dia akan selalu siap menemani diri kita untuk menempuh segala tantangan dan ujian kehidupan.

(Sumber : Tuhan Tidak Tidur, kisah-kisah penuh hikmah bersyukur atas segala kebesaran-Nya)

Tuesday, July 6, 2021

JANGAN PERNAH MENYERAH DENGAN KEADAAN - Inspirasi dari Hanan Attaki

Freepik.com

Ketika hidup banyak sekali cobaan seperti sakit, jatuh miskin, tidak bisa beli sesuatu yang diinginkan atau masalah bertubi-tubi yang terus hadir. 

Kuncinya jangan khawatir, tenang saja ada Allah. Yakin dan percaya bahwa Allah berada di dekat kita. 

" Janganlah berputus asa dari rahmat Allah. Kenapa? Allah itu Maha menolong. 

Ketika kita bergantung kepada Allah gak ada yang mustahil. Selalu ada harapan ketika kita berikan harapan itu kepada Allah.

 Tapi kalau kita berikan harapan itu kepada makhluk, kadang-kadang harapannya semu. 

Karena makhluk itu sifatnya kullu man alaiha faan gak ada yang bisa benar-benar total, gak ada yang bisa benar-benar abadi gak bisa. 

Tapi kalau kita letakkan harapan kita, lalu kita berikan hanya kepada Allah. 

Roja'  kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala maka tidak ada kata putus asa dalam kamus seorang mukmin. 

Putus asa itu bukan sifat dan akhlak orang yang beriman, Said Ust Hanan Attaki."

Jangan pernah menyerah dengan keadaan yang sedang di jalani saat ini. 

Terus berusaha dan selalu berdoa bahwa semuanya akan terselesaikan. 

Karena Allah menguji sesuai dengan kemampuan hambanya. #Sharing

(Sumber : https://www.youtube.com/watch?v=TfSnxZyqJnU)

Sunday, July 4, 2021

HIKMAH PEMUDA YANG DIPECAT DARI PEKERJAAN - Coretan Inspirasi

Freepik.com

Jika suatu saat Allah menguji kita dengan berbagai macam permasalahan hidup, maka kembalilah kepada-Nya. 

Karena Allah tidak akan memberi ujian yang tidak bisa diselesaikan oleh hamba-hamba-Nya. Mintalah kepadanya agar diberi kesabaran, ketabahan, dan kebesaran hati untuk menghadapi ujian yang diberikan-Nya.

Mintalah kepada-Nya agar senantiasa diberi semangat yang tidak kunjung menyerah sebelum meraih pemecah dari permasalahan tersebut. Mendekatlah kepada-Nya karena Insya Allah kita akan menemukan jalan keluar dari kebuntuan yang kita alami. 

Kisah seorang pemuda bernama Hasan yang memiliki sifat yang tegar dan yakin akan pertolongan Allah meskipun Allah mengujinya dengan berbagai ujian, termasuk kemiskinan.

Suatu saat kami menemukan Hasan sedang berdoa khusyuk kepada Allah. Matanya berlinangan air mata, lisannya terus-menerus berucap meski hanya Allah dan dirinyalah yang tahu. 

Bagi kami menjadi biasa ketika seseorang khusyuk dan berada dalam hidup berkecukupan, tapi menjadi luar biasalah ketika seseorang khusyuk kepada Allah saat dirinya ditimpa berbagai ujian oleh Allah.

Hasan, salah satu mantan karyawan di kantor kami yang "dirumahkan" karena kesalahpahaman. Beberapa karyawan sudah mencium gelagat buruk dari beberapa oknum yang menjadikan Hasan sebagai kambing hitam masalah. 

Hasan dituduh telah mencuri uang THR yang disimpan di laci meja kantor. Alasan ini menjadi rasional ketika dialah satu-satunya orang yang berada di dalam kantor di saat semua karyawan sudah pulang ke rumahnya masing-masing.

Berulang kali Hasan mengutarakan bahea dia tidak mengambil uang tersebut sepeser pun. Saat teman-temannya mencoba menanyakan kepada Hasan, maka dengan rendah hati beliau menjawab, 

"Hasan bersyukur kepada Allah kang, selama ini Hasan tidak pernah sedikit pun tergerak untuk mengambil uang orang lain, meskipun dua anak di rumah membutuhkan susu dan istri sedang mengandung anak ketiga." 

Beberapa rekannya mengumpulkan uang sukarela untuk membantunya. Mendengarnya, Hasan menunduk dengan terbata mengucapkan,

"Disimpan saja dulu mas, bukan berarti Hasan sombong dan menolak keikhlasan teman-teman, namun izinkan Hasan bermunajat kepada Allah dan berusaha sekuat tenaga Hasan hingga Allah memberikan rezeki yang halal bagi Hasan."

Hasan bukan hanya yakin menyerahkan sepenuhnya kepada Allah tapi juga berusaha untuk mencukupi kebutuhannya dari usaha hasil keringatnya sendiri. Hingga suatu saat Hasan menangis di hadapan Rabb-Nya. Istrinya yang mengandung sudah mendekati masa kelahiran.

Dia tidak tahu harus ke mana lagi mencari sepeser uang untuk membayar perawatan, kalaupun berutang dia juga tidak tahu bagaimana cara mengembalikannya.

Bekerja 24 jam pun tidak mampu memenuhi kebutuhan hidupnya. Kondisinya labil tersungkur di atas sejadah yang terbentang, hingga akhirnya Hasan memutuskan untuk mengaji dan membaca Qur'an dengan tartil yang merdu dan sejuk di hati.

Hasan memilih surah Ar Rahman, seraya menguatkan dirinya untuk bangkit, karena Allah tidak pernah mendustakan janji kepada siapa pun yang yakin atas kebesarannya. Bait per bait, kata per kata dilatunkan dengan tulus menenangkan hatinya, hingga suatu saat datanglah seorang bapak mengambil duduk tepat di sampingnya.

"Nak, suara Anda merdu dan menenangkan hati siapa pun yang mendengarnya. Bapak kagum dengan ananda, saya Pak Robert," laki-laki tua itu mengulurkan tangannya. Hasan menyambutnya dengan salam dan cium tangan yang khas dia lakukan kepada orang yang lebih tua.

"Saya seorang mualaf nak, sudah dua minggu saya dan keluarga saya memutuskan untuk berikrar kepada Allah dan Rasulnya, kami membutuhkan seseorang yang mampu mengajarkan kami banyak hal tentang islam, dan menghidupkan nuansa ruamh kami dengan Al-Qur'an dan nuansa keislaman.

Saya memiliki saham dan memimpin perusahaan, segalanya saya miliki, namun kami harus memulai dari nol untuk menjadikan apa yang kami miliki agar mendapatkan berkah dari Allah. Maukah nak Hasan membantu kami?"

Hasan pun meneteskan air mata, menangis, dan menganggukkan kepala dengan senyum yang sudah menjelaskan bahwa dia bersedia untuk membantu laki-laki tua tersebut.

Pak Robert tersenyum dan menepuk pundak Hasan,"Nak Hasan punya keluarga? Jika nak Hasan tidak keberatan, saya menawarkan nak Hasan & keluarga untuk pindah ke rumah saya. 

Mungkin lebih mudah dalam menghidupkan nuansa Islam di rumah kami dan mengajarkan apa saja yang tidak kami tahu tentang islam. 

Saya juga ingin mendirikan koperasi dan mendirikan mushala di kampung dekat rumah bapak tinggal, semoga nak Hasan bisa membantu bapak."

Hasan memeluk sang bapak dengan erat, air matanya tumpah dan terus-menerus mengucap syukur kepada Allah Subhana Wa Ta'ala. Subhanallah, Allah sangat dekat dengan hamba-Nya. Tidak ada jalan buntu yang ada hanyalah jalan terbaik bagi hamba-hamba yang senantiasa terus mendekatkan diri kepada-Nya.

(Sumber : Buku Tuhan Tidak Tidur, Kisah-kisah penuh hikmah Bersyukur atas segala kebesaran-Nya - Havabe Dita Hijratullail, Jimmy Wahyudi Bharata Al-Kalam)