Saturday, August 15, 2020

REVIEW BUKU | OTW NIKAH - Penulis Asma Nadia

Assalamua'alaikum man teman...

Gimana hari-harinya menyenangkan kan? harus dong namanya juga hidup, pasti selalu bahagia apalagi kalo setiap hari selalu bersyukur.  

Jangan bosen-bosen ya sama saya :) Kali ini saya akan review buku untuk jombloers haha ga deng becanda. Tentang apa sih? yah seperti dilihat di gambar OTW Nikah! Tapi bukan cuma buat yang belum nikah aja, banyak juga manfaatnya contoh-contoh yang terdapat di buku ini. Banyak bener kisahnya kaya kehidupan nyata. Apa bunda Asma memang dapat pengalaman cerita dari yang sudah merasakan ya?? 

Lanjutlah ya man teman...

Saya kalau cari buku pastinya baca synopsis dibelakang sampulnya dulu. Kalian sama juga ga sih?

OTW nikah?

Yeaayy, setelah perjalanan jatuh bangun melalui proses panjang, rasanya bahagia karena akhirnya menemukan sosok tepat untuk melabuhkan cinta, menggenapkan setengah agama, dan berharap bisa bergandengan tangan ke surga.

OTW nikah adalah harapan semua singelillah. Intip berbagai kisah terkait kecamuk aneka rasa, saat meniti langkah ke sana. Nikmati serpihan hikmah sebagai pertimbangan sebelum menuju halal.

Beberapa goresan pena di buku ini mungkin melaju lebih jauh melampaui garis OTW nikah, sebagai upaya memberi bayangan akan ujian pernikahan yang menanti setelah ijab kabul terpenuhi. Termasuk pilihan pacaran atau ta'aruf sebagai jalan OTW nikah.

Lalu, kerepotan teknis apa selain persiapan lahir batin yang dibutuhkan?

Semoga buku ke-58 Asma Nadia ini mampu sedikit membekali kamu menyongsong babak baru dalam kehidupan, atau sekedar media nostalgia yang menyegarkan batin dari rutinitas, sekaligus menguatkan komitmen pernikahan yang pernah diikrarkan.

Tulisan di atas synopsis dari buku otw nikah ini. 

Buku ini cocok banget yang masih bingung apa sih yang harus dipersiapkan sebelum nikah, cara memilih calon pasangan. Saya bakalan review salah satu cerita favorit dalam buku ini. Wait, tapi mau cerita sedikit kenapa saya pilih buku ini untuk di baca.

Siapa sih yang gak penulis Asma Nadia? Tulisannya dan ceritanya sudah tidak di ragukan lagi. Banyak ceritanya yang menjadi inspirasi untuk dijadikan motivasi. Pesan moralnya itu kaya kisah nyata padahal ini nih novel gitu ya. Ntahlah Bunda Asma emang the best! Inspirasi saya banget lah.

Buat man teman yang otw nikah atau sudah mempunyai niat untuk menikah masukin daftar list nih buku. Bener deh setiap babnya aada contoh-contoh yang memang pas untuk kehidupan.

Nih ada salah satu bab judulnya 

"Jodoh Bagi Rani " 

 "Gimana kamu nanti bisa nentuin yang mana jodohmu?"

"iya, lelaki macam apa yang akan kamu terima? Betul dia harus saleh, pasti itu jawabanmu. Tapi definisi saleh, kan, luas. Lebih definitif dong, Non!"

"Bagaimana dengan Ridwan?"

Santi, satu dari tiga gadis di depanku tiba-tiba menyebut satu nama yang tak asing bagi kami. Mengingat Ridwan salah satu aktivis Rohis kampus yang berwibawa, aku lantas saja mengangguk

"Boleh."

"Kalau Hanif?"

Hmm, orangnya baik, simpatik, saleh, punya kemampuan orasi yang bagus, meski tingginya yang hanya sekitar 156-an tak padan denganku yang jangkung. Tapi dia saleh, jadi aku mengangguk lagi. Nana di depanku kontan teriak histeris,"Gile, mau juga sama si Hanif? Dia kan the shortest guy in campus. Paling pendek!"

Aku menyolek hidungnya, "Huss! Lihat orang jangan cuma fisik, dong!"

"Eh, maaf," Nana tersipu. "Jangan marah, Ran! Maklum aku, kan, akhwat baru."

Santi dan Ria tertawa. Memang baru sebulan ini, nona paling centil di antara kami, berkerudung. Akhirnya, setelah aku, Ria, Santi, berjilbab juga si bungsu. Selain paling centil, gadis jangkung itu juga paling muda.

"Hanif, oke! Nah, kalau yang melamar kamu si Bimbim? Wayo, gimana?"

Bimbim, ya? Aku, Santi dan Ria tiba-tiba memandang langit. Diantara sapuan warna biru cerah langit pagi dan awan-awan putih yang berarak, tergambar sosok Bimbim yang besar. Meski bobotnya luar biasa, Bim enggak minderan orangnya. Supel, punya leadership yang oke. Dan dia juga...

"Dia ikhwan, kan?" cetus Santi.

"Ya, kelas berat, pastinya! Udah aktif di Rohis dari SMU," Ria mengomentari.

"Jelas kelas beratlah. Enggak lihat apa bobotnya?"

Mendengar komentar terakhir Nana, aku langsung melotot. "Jangan lihat fisik, dong!" Kali ini kami ramai-ramai menegur Nana.

"Iya," lanjutkan, "Yang penting ikhwan. Alim, saleh, sudah mampu mencukupi keluarga. Selesai!"

"Jadi? Sama Bimbim mau?"

Aku mengangguk tanpa berpikir. Nana teriak lebih histeris, tidak bisa menerima kenyataan. "Ya ampun, maruk kamu ya, tiga-tiganya mau! Bimbim lagi, dia kan gendut banget banget banget!"

"Tapi dia ikhwan!" bela Santi. "Aku setuju sama Rani. Yang penting hatinya."

"Iya, kamu gimana, sih, Na. Selera kalau udah hijrah, ya, harus hijrah juga. Biar kata si Ansel Elgort cool abis, kalo enggak seiman, mah, mendingan Bimbim, deh!"

Nana agak shock mendengar perumpamaan Santi. "Begitu ya?"

"Ya, iya, dong!" Ria menegaskan kalimat Santi. "Tapi kalau aku, maunya yang cakep kayak si Ridwan, tapi tinggi kayak si Saiful, dan saleh kayak si Bimbim atau Hanif! Udah, aku enggak ngarep yang macam-macam. Eh ada lagi... satu lagi..."

Kami menunggu.

"Kalau bisa mapannya kayak Abu Bakar Shidiq!"

Uhh, aku dan Santi rasanya pengin ngeculek  Ria. Tapi akhirnya kami putuskan untuk memindahkan sasaran. Setelah Nana dengan lugunya bertanya. "Siapa? Abu Bakar? Ikhwan baru ya?"

Huuuuhhh! Baca sirah, dong, Non, baca!

Ini cerita baru sebagian PENASARAN KANN GIMANA KESIMPULANNYA?? kalau saya tulis semua ga muat hehe. Man teman bisa langsung ke toko buku terdekat yaa. Seru pokoknya mah. Semoga bermanfaat :) 

0 comments:

Post a Comment