Sunday, August 30, 2020

BELAJAR MENCINTAI DIRI SENDIRI - Coretan Inspirasi

"Semua yang kita kerjakan, meski dengan tujuan untuk orang lain pun, pada hakikatnya, kita juga mengerjakannya untuk kebaikan diri kita sendiri." -ARA-

Seorang tukang kayu tua bermaksud pensiun dari pekerjaannya di sebuah perusahaan konstruksi real estate. Ia menyampaikan keinginannya tersebut pada pemiliki perusahaan. Tentu saja, karena tak bekerja, ia akan kehilangan penghasilan bulannya, tetapi keputusan itu sudah bulat. Ia merasa lelah. Ia ingin beristirahat dan menikmati sisa hari tuanya dengan penuh kedamaian bersama istri dan keluarganya.

Pemiliki perusahaan merasa sedih kehilangan salah seorang pekerja terbaiknya. Ia lalu memohon pada tukang kayu tersebut untuk membuatkan sebuah rumah untuk dirinya

Tukang kayu mengangguk menyetujui permohonan pribadi pemilik perusahaan itu. Tapi, sebenarnya ia merasa terpaksa. Ia ingin segera berhenti. Hatinya tidak sepenuhnya dicurahkan. Dengan ogah-ogahan ia mengerjakan proyek itu. Ia cuma menggunakan bahan-bahan sekadarnya.

Akhirnya, selesailah rumah yang diminta. Hasilnya bukanlah sebuah rumah baik. Sungguh sayang ia harus mengakhiri kariernya dengan prestasi yang tidak begitu mengagumkan. Ketika pemiliki perusahaan itu datang melihat rumah yang dimintanya, ia menyerahkan sebuah kunci rumah pada si tukang kayu."ini adalah rumahmu," katanya,"hadiah dari kami."

Betapa terkejutnya si tukang kayu. Betapa malu dan menyesalnya. Seandainya saja ia mengetahui bahwa ia sesungguhnya mengerjakan rumah untuk dirinya sendiri, ia tentu akan mengerjakannya dengan cara yang lain sama sekali. Kini ia harus tinggal di sebuah rumah yang tak terlalu bagus hasil karyanya sendiri.

Itulah yang terjadi pada kehidupan kita. Kadangkala, banyak dari kita yang membangun kehidupan dengan cara yang membingungkan. Lebih memilih berusaha ala kadarnya ketimbang mengupayakan yang baik. Bahkan, pada bagian-bagian terpenting dalam hidup kita tidak memberikan yang terbaik. Pada akhir perjalanan kita terkejut saat melihat apa yang telah kita lakukan dan menemukan diri kita hidup di dalam sebuah rumah yang kita ciptakan sendiri.

Seandainya kita menyadarinya sejak semula kita akan menjalani hidup ini dengan cara yang jauh berbeda. Kita adalah tukang kayu itu. Apa pun yang kita kerjakan sekarang ini adalah apa pun yang akan kita dapatkan nanti. Bagaimana bisa kita bekerja untuk menghasilkan 80 tapi berharap mendapat 100?

Kita akan selalu mendapat sesuatu sesuai dengan apa yang kita berikan. Jika sebagai karyawan kita hanya mengerjakan seadanya, kenapa mengharap mendapat imbalan sebanyak-banyaknya? Jika belajarnya hanya seadanya, kenapa mengharap nilai setinggi-tingginya? ini seperti mengendarai mobil dengan hanya bahan bakar yang cukup untuk 80km dan tidak akan diisi lagi, tapi kita berharap mobil itu sampai di 100km. Bagaimana bisa?

Kenapa kita tidak berpikiran bahwa apa pun yang kita kerjakan adalah diri kita sendiri dan demi kita sendiri? Karena memang kenyataannya seperti itu. Kita akan mendapat sesuai dengan yang kita berikan.  Tidak lebih tidak kurang. 

Sumber : The Amazing of Ikhlas - ARA -

Friday, August 28, 2020

JIKA BEBAN HIDUP TERLALU BERAT - Inspirasi dari Hanan Attaki

Setiap kejadian yang menimpa terhadap diri kita sudah menjadi garis takdir yang diberikan oleh Allah. Tinggal gimana cara kita menyikapi permasalahan yang ada.

 Bukan karena Allah tidak sayang justru dibalik itu semua Allah sayang banget sama kita, makanya kita yang diberikan permasalahan yang berat. 

Mental kita lagi dibentuk oleh Allah menjadi manusia yang lebih kuat dalam menghadapi permasalahan apapun yang terjadi didalam hidup.

"Kenapa harus aku yang terus-terusan, kok aku terus yang jadi di bully, kok aku terus yang direpotkan, kok aku terus sih yang diomongin, kok aku terus sih yang dikasih beban dan segala macam. Kenapa harus aku? Pernahkan nanya kaya gini? Saya juga pernah. 

Mau tau jawabannya? jawabannya adalah karena Allah sayang sama kita, maka Allah memilih kita. Karena Allah merasa dekat dengan kita, maka Allah memilih kita. 

Karena Allah percaya kita, maka Allah memilih kita diantara yang lain. Diantara teman-teman Allah memilih kita karena Allah sayang sama kita, Allah pengen menggugurkan dosa kita dengan omongan mereka. 

Allah ingin mengangkat derajat kita dengan gibah dan fitnah mereka dan Allah ingin membuat kita tangguh, karena Allah sayang dan merasa akrab sama kita. Jadi apa yang harus membuat kita iri, cemburu ketika Allah memberikan kita beban hidup, Said Ust Hanan Attaki."

Seberat apapun ujian dalam hidup pasti ada hikmahnya. Teruslah berpikir positif untuk setiap masalah yang hadir dalam hidup kita. 

Karena Allah lagi mempersiapkan kejutan yang sangat indah untuk menjadikan diri kita lebih kuat dan mendapatkan hadiah yang tidak disangka-sangka. #Sharing

Sumber Youtube :


 

Saturday, August 15, 2020

REVIEW BUKU | OTW NIKAH - Penulis Asma Nadia

Assalamua'alaikum man teman...

Gimana hari-harinya menyenangkan kan? harus dong namanya juga hidup, pasti selalu bahagia apalagi kalo setiap hari selalu bersyukur.  

Jangan bosen-bosen ya sama saya :) Kali ini saya akan review buku untuk jombloers haha ga deng becanda. Tentang apa sih? yah seperti dilihat di gambar OTW Nikah! Tapi bukan cuma buat yang belum nikah aja, banyak juga manfaatnya contoh-contoh yang terdapat di buku ini. Banyak bener kisahnya kaya kehidupan nyata. Apa bunda Asma memang dapat pengalaman cerita dari yang sudah merasakan ya?? 

Lanjutlah ya man teman...

Saya kalau cari buku pastinya baca synopsis dibelakang sampulnya dulu. Kalian sama juga ga sih?

OTW nikah?

Yeaayy, setelah perjalanan jatuh bangun melalui proses panjang, rasanya bahagia karena akhirnya menemukan sosok tepat untuk melabuhkan cinta, menggenapkan setengah agama, dan berharap bisa bergandengan tangan ke surga.

OTW nikah adalah harapan semua singelillah. Intip berbagai kisah terkait kecamuk aneka rasa, saat meniti langkah ke sana. Nikmati serpihan hikmah sebagai pertimbangan sebelum menuju halal.

Beberapa goresan pena di buku ini mungkin melaju lebih jauh melampaui garis OTW nikah, sebagai upaya memberi bayangan akan ujian pernikahan yang menanti setelah ijab kabul terpenuhi. Termasuk pilihan pacaran atau ta'aruf sebagai jalan OTW nikah.

Lalu, kerepotan teknis apa selain persiapan lahir batin yang dibutuhkan?

Semoga buku ke-58 Asma Nadia ini mampu sedikit membekali kamu menyongsong babak baru dalam kehidupan, atau sekedar media nostalgia yang menyegarkan batin dari rutinitas, sekaligus menguatkan komitmen pernikahan yang pernah diikrarkan.

Tulisan di atas synopsis dari buku otw nikah ini. 

Buku ini cocok banget yang masih bingung apa sih yang harus dipersiapkan sebelum nikah, cara memilih calon pasangan. Saya bakalan review salah satu cerita favorit dalam buku ini. Wait, tapi mau cerita sedikit kenapa saya pilih buku ini untuk di baca.

Siapa sih yang gak penulis Asma Nadia? Tulisannya dan ceritanya sudah tidak di ragukan lagi. Banyak ceritanya yang menjadi inspirasi untuk dijadikan motivasi. Pesan moralnya itu kaya kisah nyata padahal ini nih novel gitu ya. Ntahlah Bunda Asma emang the best! Inspirasi saya banget lah.

Buat man teman yang otw nikah atau sudah mempunyai niat untuk menikah masukin daftar list nih buku. Bener deh setiap babnya aada contoh-contoh yang memang pas untuk kehidupan.

Nih ada salah satu bab judulnya 

"Jodoh Bagi Rani " 

 "Gimana kamu nanti bisa nentuin yang mana jodohmu?"

"iya, lelaki macam apa yang akan kamu terima? Betul dia harus saleh, pasti itu jawabanmu. Tapi definisi saleh, kan, luas. Lebih definitif dong, Non!"

"Bagaimana dengan Ridwan?"

Santi, satu dari tiga gadis di depanku tiba-tiba menyebut satu nama yang tak asing bagi kami. Mengingat Ridwan salah satu aktivis Rohis kampus yang berwibawa, aku lantas saja mengangguk

"Boleh."

"Kalau Hanif?"

Hmm, orangnya baik, simpatik, saleh, punya kemampuan orasi yang bagus, meski tingginya yang hanya sekitar 156-an tak padan denganku yang jangkung. Tapi dia saleh, jadi aku mengangguk lagi. Nana di depanku kontan teriak histeris,"Gile, mau juga sama si Hanif? Dia kan the shortest guy in campus. Paling pendek!"

Aku menyolek hidungnya, "Huss! Lihat orang jangan cuma fisik, dong!"

"Eh, maaf," Nana tersipu. "Jangan marah, Ran! Maklum aku, kan, akhwat baru."

Santi dan Ria tertawa. Memang baru sebulan ini, nona paling centil di antara kami, berkerudung. Akhirnya, setelah aku, Ria, Santi, berjilbab juga si bungsu. Selain paling centil, gadis jangkung itu juga paling muda.

"Hanif, oke! Nah, kalau yang melamar kamu si Bimbim? Wayo, gimana?"

Bimbim, ya? Aku, Santi dan Ria tiba-tiba memandang langit. Diantara sapuan warna biru cerah langit pagi dan awan-awan putih yang berarak, tergambar sosok Bimbim yang besar. Meski bobotnya luar biasa, Bim enggak minderan orangnya. Supel, punya leadership yang oke. Dan dia juga...

"Dia ikhwan, kan?" cetus Santi.

"Ya, kelas berat, pastinya! Udah aktif di Rohis dari SMU," Ria mengomentari.

"Jelas kelas beratlah. Enggak lihat apa bobotnya?"

Mendengar komentar terakhir Nana, aku langsung melotot. "Jangan lihat fisik, dong!" Kali ini kami ramai-ramai menegur Nana.

"Iya," lanjutkan, "Yang penting ikhwan. Alim, saleh, sudah mampu mencukupi keluarga. Selesai!"

"Jadi? Sama Bimbim mau?"

Aku mengangguk tanpa berpikir. Nana teriak lebih histeris, tidak bisa menerima kenyataan. "Ya ampun, maruk kamu ya, tiga-tiganya mau! Bimbim lagi, dia kan gendut banget banget banget!"

"Tapi dia ikhwan!" bela Santi. "Aku setuju sama Rani. Yang penting hatinya."

"Iya, kamu gimana, sih, Na. Selera kalau udah hijrah, ya, harus hijrah juga. Biar kata si Ansel Elgort cool abis, kalo enggak seiman, mah, mendingan Bimbim, deh!"

Nana agak shock mendengar perumpamaan Santi. "Begitu ya?"

"Ya, iya, dong!" Ria menegaskan kalimat Santi. "Tapi kalau aku, maunya yang cakep kayak si Ridwan, tapi tinggi kayak si Saiful, dan saleh kayak si Bimbim atau Hanif! Udah, aku enggak ngarep yang macam-macam. Eh ada lagi... satu lagi..."

Kami menunggu.

"Kalau bisa mapannya kayak Abu Bakar Shidiq!"

Uhh, aku dan Santi rasanya pengin ngeculek  Ria. Tapi akhirnya kami putuskan untuk memindahkan sasaran. Setelah Nana dengan lugunya bertanya. "Siapa? Abu Bakar? Ikhwan baru ya?"

Huuuuhhh! Baca sirah, dong, Non, baca!

Ini cerita baru sebagian PENASARAN KANN GIMANA KESIMPULANNYA?? kalau saya tulis semua ga muat hehe. Man teman bisa langsung ke toko buku terdekat yaa. Seru pokoknya mah. Semoga bermanfaat :)