Saturday, July 18, 2020

BELAJAR MENGHADAPI MASALAH IBARAT SEPERTI SEGENGGAM GARAM - Coretan Inspirasi

"Kadang, cara paling mudah untuk berbahagia hanyalah dengan bisa menerima."
-Ara-

Jika tidak mau menerima kenyataan, sekaya apa pun, sekuat apa pun, sehebat apa pun dan seberkuasa apa pun, dia akan jatuh ke dalam lubang yang dalam. Orang yang kuat bukanlah yang memiliki segalanya, tapi yang mampu menerima keadaannya dan kembali berjalan.

Suatu hari, ada seseorang yang dirundung banyak sekali masalah. Dia pun berjalan gontai dengan air muka yang sangat keruh. Dia berjalan menuju hutan sekadar menjauhkan diri dari kebisingan kota dan pekerjaan.

Orang itu kemudian melihat seorang tua yang sepertinya seorang sufi sedang memetik sayuran di pekarangan rumahnya dalam hutan. Dia pun mendekati sang sufi untuk bertamu dan sekadar berbincang. Sang sufi melihat raut muka orang itu dan tahu bahwa tamunya sedang dirundung masalah. Dia pun dengan berhati-hati dan ramah memintanya bercerita.

Setelah sekian lama mendengarkan, sufi pun mengerti bahwa ternyata memang masalah yang dihadapi orang itu cukup besar. Ia lalu mengambil segenggam garam dan mencampurkannya ke dalam air putih dalam gelas dan meminta orang itu untuk merasakannya.

Tentu saja orang itu merasa enggan karena dia tahu rasanya pasti sangat, sangat tidak enak. Akan tetapi, sang sufi dengan tersenyum berkata,Rasakanlah. sedikit saja tidak apa-apa."

Merasa tidak enak, orang itu pun merasakannya meski mungkin beberapa tetes. Raut mukanya seketika berubah sambil menggerakkan lidahnya berulang dan bergidik. Rasanya sama sekali tidak enak.

"Pahit!" Kata orang itu."Pahit sekali!"

SAng sufi tersenyum. Ia lalu mengajak tamunya berjalan ke luar rumah sampai ke sebuah telaga jernih. Ia mengambil segenggam garam juga dan menebarkannya ke telaga itu. Dengan sepotong kayu, dia mengaduk telaga itu tanpa menyentuh dangkal telaga sehingga air tetap jernih. Sekali lagi, dia meminta orang itu untuk merasakan air dari telaga itu.

Orang itu meminumnya dengan tangan. Dia kemudiam meminumnya lagi dan lagi. "Segar sekali." Gumamnya.

"Apa kita merasakan garam dalam air itu?"
"Sama sekali tidak."Kata orang itu.

Orang itu lalu diminta duduk berhadapan."Saudaraku, pahitnya kehidupan itu seperti segenggam garam, tak lebih, dan tak kurang. Jumlah dan rasa pahit itu adalah sama, dan memang akan tetap sama."

"Tetapi, garam ini sangat bergantung dengan wadah yang dimilikinya. Jika wadahnya kecil maka semakin tidak kelihatan pengaruh garam tersebut dalam rasa air."

"Jika segenggam garam adalah pahitnya kehidupan, maka wadahnya adalah hatimu. Perasaanmu adalah tempat itu. Di sanalah kita menampung segala sesuatu. Janganlah menjadikan hati dan perasaanmu seperti gelas. Jadilah seperti telaga, atau yang lebih luas dari itu. Maka segalanya akan baik-baik saja. Bahkan kepahitan itu tidak akan mengubah kehidupanmu."

Sumber : The Amazing of Ikhlas - Ara

0 comments:

Post a Comment