Monday, May 4, 2020

REVIEW BUKU | TSUNAMI - Penulis Cut Anastasia

Assalamua'alaikum man teman..
Gimana puasanya? Aman kan ? udah ada yang pecah belum nih? Semoga selalu diberikan kesehatan yak. Baru berapa hari, saya balik lagi nih buat review buku. Akibat lockdown pengen rasanya semua buku dilahap. Tapi apa daya stock buku semakin menipis, mau ke gramed tapi ya tau sendirilah ya. Sapa tau ada yang ngirimin buku dadakan lagi #ngarep haha.

Kali ini saya akan review buku benar-benar kisah nyata dari sang penulis. Pada tau kan apa itu Tsunami? Gelombang air besar yang di akibatkan oleh gangguan di dasar laut seperti gempa bumi.  Kejadian gempa terdahsyat pada tanggal 26 Desember 2004 mengakibatkan tsunami yang melanda wilayah Aceh. Kalau mau info lebih lengkap lagi bisa cari di mbah google ya.

Sedikit cerita, memang ya kata orang-orang kalau rezeki itu ga kemana. kalau kemana-mana namanya bukan rezeki, sama kaya jodoh dikejar menjauh, ga dikejar datang sendiri haha. Seperti buku yang satu ini, saya dapat gratisan lagi. Tiba-tiba ada chat minta alamat rumah, setelah ditelusuri ternyata punya kakak paham kali kemauan adeknya haha. Paket buku tiba dirumah dibungkus dengan rapi. Pengiriman dari kota Medan, alhamdulillah rezeki! :)

Balik ke topik, tulisan yang terlihat dari depan cover tertulis judul buku TSUNAMI lalu terbayang isi cerita kisah sedih dalam menjalani kejadian yang menimpa saat tsunami. Perlahan melihat cover belakang tertulis :

Kisah nyata Cut Ana dan Mina, kakak beradik yang selamat dari tragedi Tsunami yang terjadi pada tanggal 26 Desember 2004. Kejadian itu sempat membuat kakak beradik ini kehilangan semangat hidupnya. Lalu, Cut Ana dan Mina mencoba bangkit untuk tetap menjalani hidup dengan normal.

Mereka harus bersusah payah menjalani hidup dengan normal seperti anak lainnya. Mau tak mau, mereka harus menyesuaikan diri dengan keluarga baru, tempat baru, dan aturan yang baru. Bagaimana petualangan hidup mereka selanjutnya? Apakah mereka mampu menjalaninya dengan bahagia? Atau malah sebaliknya, berakhir dengan kesedihan?

Semakin penasaran gimana sih yang terjadi baru beberapa bab yaAllah dibuat nangis isi ceritanya. Setegar itu kah Cut Ana menghadapi apa yang telah ditakdirkan Allah. Jujur gatau ya kalau saya yang berada diposisi itu kuat apa gak. nih salah satu isi dari ceritanya. Baca pelan-pelan ya man teman.

Akan tetapi, Mina masih saja bergeming. Melihatnya membuatku kehilangan selera humor. Padahal, dulu biasanya kami sering becanda dan tertawa sampai terpingkal-pingkal. Mina juga kerap melakukan adegan lucu. Namun, itu dulu. Sebelum Tsunami mengambil kedua orang tua kami. Ya Allah...

Air mata mengalir lagi. Aku menangis hingga sesenggukan. Sekarang diri ini terlihat seperti orang bodoh, tertawa sendirian di tempat yang asing. Sementara adikku masih tak mau bicara. Uak Ijan mendekat dengan bawaan yang lumayan banyak.


"Lah... Kenapa lagi?"
"Aku mau pulang ke Aceh lagi, Waak. Mau pulang ke sana. Mana tahu Ayah masih selamat. Hiks!"
"Cut Ana, dengarkan uak sekarang, ya! Mulai saat ini uak adalah ayahmu. Uak perempuan adalah mamamu. Cut Ana bebas mau manggil uak atau pun ayah. Panggil uak perempuan dengan mama juga gak masalah. Nanti ada Atok perempuan juga. Gak kepengen jumpa Atok? Jumpa Ayahwa?"

"Cut Ana mau pulang aja. Cut Ana gak mau di sinii. Aaa...!" Tangisanku semakin kuat, diikuti kaki yang dihentak-hentakkan. Beberapa orang melihat ke arah kami, mungkin heran dengan tingkahku.

"Jangan nangis lagi, nanti dikira mereka, uak nyulik kalian. Udah, nanti kapan ada waktu, kita pulang. Kalau ayahnya Cut Ana ada kabar, kita langsung pulang."

"Janji,ya Uak!" kataku sambil menghapus air mata.

Ntahlah apa yang dipikirkan Cut Ana setelah kejadian Tsunami terpisah dari keluarganya. Apakah orang tuanya selamat? Atau malah sebaliknya, kisahnya sudah terangkum semua di buku ini kalau mau order bisa langsung ke penulisnya cari aja facebooknya Cut Anastasia.     

Ada juga part berjuang saat terkena hempasan air laut yang tidak bisa dibayangkan satu lagi nih bonus cerita

"Waktu itu, aku lagi masak. Kudengar orang berteriak air laut naiik!... air laut naiik! Semua pada lari ke arah gunung. Bergegas kugendong Maulidi dan tangan satu lagi kupegang Akmal. Sambil berlari aku terus mengingatkan. Pegang terus mamak, ya! Jangan lepas! Keadaan semakin panik. Beberapa orang jatuh tersandung karena lari dengan panik. Aku terus lari, walau kesusahan karena sambil membawa dua anak. Tapi, hatiku tak putus bertasbih."

Cutkak menghentikan ceritanya sejenak, dari kedua mata itu muncul tetesan air mata yang sejak tadi mungkin sudah berusaha ditahan. Sementara itu, aku masih menahan mata yang mulai terasa berembun. Lalu, setelah mengelap air mata. Cutkak melanjutkan ceritanya.

"Rasanya sudah tak sanggup lari. Jika kutinggalkan mereka, pasti aku selamat sendiri. Tapi, aku gak mungkin meninggalkan anakku yang masih kecil. Kucoba terus menyemangati diri, tak pernah kulihat sekali pun ke belakang. Aku tak mau nyaliku ciut. Ternyata, cara ini memberi kekuatan lebih untukku. Aku semakin berlari sekuat tenaga. Berulang kali Akmal minta berhenti karena kelelahan, tak kuperdulikan."

Penasaran...penasaran...penasaran? Gimana cerita selanjutnya? Buruan di order kalau saya tulis semua ga cukup nih. Hehe. Tungguin review buku selanjutnya ya :)

0 comments:

Post a Comment