Friday, March 20, 2020

5 CARA KUNCI SUKSES STEVE JOB PEMILIK PRODUK APPLE


Steve Jobs mencapai puncak kesuksesan pun bisa dikatakan berbeda dengan yang lain; misalkan dengan Bill Gates. Mencontoh cara dan langkah Jobs dalam meraih kesuksesan, itu bukanlah tindakan yang keliru. Jobs juga tidak mendapatkan semua itu secara instan. Ia telah banyak mencoba, dan banyak pula gagal sebelum akhirnya berhasil.

Steve Jobs, abad ini merupakan model paling ideal untuk sebuah percontohan seorang enterpreneur sekaligus inovator kelas dunia. Banyak cara dan kunci sukses dari Jobs yang bisa dijadikan contoh generasi muda saat ini. Beberapa cara dan kunci sukses Steve Jobs yang dapat dijadikan contoh ideal, antara lain :

1. Cintai Apa yang Kamu Kerjakan dan Lakukan

Jimmy Wales, saat sekolah merupakan seorang siswa yang gemar membaca ensiklopedia. Setelah lulus kuliah, kegemaran dan ketertarikannya terhadap ensiklopedia telah mendorongnya membuat sebuah ensiklopedia online. Itulah Wikipedia, sebuah web ensiklopedia online terbesar di dunia saat ini yang didirikan pada tahun 2001. Berawal dari sebuah kegemaran, ketertarikan, dan kecintaan, Wales telah melakukan hal  besar yang bermanfaat bagi orang banyak.

Jimmy Wales
Seperti Wales, Steve Jobs pun demikian. Pada awalnya ia hanya seorang anak yang tertarik dan suka mengutak atik perangkat elektronik. Namun, seiring berkembangnya waktu, ketertarikan dirinya itu mendorong ke arah yang lebih bermanfaat.

Apple dan segala inovasi Jobs seperti Macintosh, iPhone, atau iPad, itu semua berawal dari kecintaan. Jobs mencintai apa yang ia lakukan. Ia mencintai teknologi, mencintai Apple, dan mencintai semua pekerjaannya. Hasilnya adalah totalitas karya yang mengagumkan dari seorang Steve Jobs.

2. Memiliki Visi Jauh ke Depan

Negara-negara di Asia seperti Jepang, India, China, dan Korea Selatan, pada awalnya merupakan negara tertinggal jika dibandingkan dengan Barat. Namun, mereka memiliki pandangan jauh ke depan untuk membangun negaranya agar maju seperti Amerika Serikat atau Eropa.

Dimulai dari Jepang, mereka semua banyak mengirim anak muda terbaik di negara masing-masing untuk belajar ke negara barat yang lebih maju. Sepulang dari menimba ilmu, mereka akan difasilitasi dan didukung penuh untuk memajukan negara dengan bekal ilmu masing-masing.

Hasilnya sangat memuaskann. Jepang, India, China, dan Korea Selatan, sekarang telah menjadi pemain utama industri dunia. Produk-produk dan hasil kemajuan mereka bahkan telah sampai di negara-negara barat yang dulu dicontoh habis-habisan oleh mereka. Itulah gambaran bagaimana sebuah visi jauh ke depan, dapat membuat perbedaan yang jauh pula secara hasil akhir.

Dalam berbagai kesempatan, Steve Jobs sering berkata untuk melihat ke arah mana bola akan datang, bukan dari mana bola datang. Maksud dari motivasi Jobs itu adalah mengoptimalkan kemampuan manusia membaca arah masa depan. Semua inovasi Jobs merupakan apa yang diinginkan sekaligus dibutuhkan oleh masa depan. Itu karena seorang Steve Jobs benar-benar memiliki visi masa depan yang sangat tajam.

Baca Juga : 5 Hal Yang Bisa Kita Syukuri Terus Menerus Sepanjang Hidup Ini

Ketika ia merancang iPhone bersama Jonathan Ive, ia melihat iPhone sebagai masa depan manusia. Sebuah perangkat telepon genggam yang dapat digunakan untuk menunjang pekerjaan multitasking dan media hiburan adalah inovasi luar biasa. Salah satu kekuatan terbesar Jobs secara personal yang tidak banyak dimiliki orang lain adalah visi masa depan yang sangat tajam.

3. Selalu Bersyukur dan Berpikir Positif

Bersyukur dan berpikir positif merupakan sebuah ungkapan klise. Ungkapan itu mudah sekali diucapkan, namun sangat sulit ketika dipraktikkan. Bagi Steve Jobs, bersyukur dan berpikir positif merupakan hal yang telah dilakukannya sedari kecil. Orang tua angkat Jobs, Clara dan Paul, telah memberitahu dirinya bukan anak biologis mereka sejak Jobs masih kanak-kanak.

Seperti yang telah diceritakan sebelumnya, Jobs kecil pernah menangis saat temannya bertanya, apakah orang tua kandung Jobs tidak menginginkannya ketika ia lahir. Namub, Clara dan Paul langsung menghibur Jobs dengan berkata,"Bagi kami, kamu sangat spesial dan berharga. Itulah sebabnya kami mengadopsimu."

Sejak momen itulah Jobs mulai terus bersyukur, karena memiliki orangtua angkat yang sangat menyayanginya. Ia hanya berpikir positif saja saat itu, andai hidup bersama orangtua kandung, bisa jadi ia malah tidak sebahagia ini.

Momen itu ternyata telah membentuk kepribadian Jobs untuk menjadi orang yang terus bersyukur dan berpikir positif dalam berbagai hal. Termasuk kesuksesan Jobs terus berkreasi bersama Apple, adalah buah dari kekuatan berpikir positif. Dengan logis, Jobs menggunakan cara berpikir positif untuk mendatangkan energi positif dalam bekerja.

4. Tidak Berhenti Saat Gagal

Ir. Soekarno pernah dipenjarakan pemerintah kolinial Belanda karena aktifitas politiknya sebelum Indonesia merdeka. Bagi banyak orang, dijebloskan ke penjara berarti tamat dan harus berhenti agar selamat. Namun, tidak demikian dengan orang-orang besar di seluruh dunia. Apa yang dianggap orang lain sebagai kegagalan, bagi mereka itu semua bisa dijadikan pembelajaran untu terus maju. Termasuk Soekarno, jika saat dipenjara ia menyerah kemudian berhenti berjuang, bisa jadi peta masa depan Republik Indonesia juga akan berubah total.

Steve Jobs pernah beberapa kali mengalami kegagalan bersama Apple. Kenyataan produk Apple III dan Apple Lisa yang gagal di pasaran tidak lantas membuat Jobs terpuruk. Ia belajar dari berbagai kekurangan kegagalan produk sebelumnya, untuk bangkit bersama Macintosh. Momen kegagalan Jobs berikutnya yaitu ketika dirinya dipecat dari Apple.

Sikap arogan yang terlalu sering menyalahkan orang lain, membuat Jobs banyak berselisih dengan rekan sendiri. Sikapnya itu suatu ketika membawanya berselisih dengan John Sculley, manajer marketing Apple yang dibawanya dari Pepsi Cola. Sayangnya, dewan direksi lebih banyak berpihak kepada Sculley, dan melihat itu semua kesalahan Jobs.

Saat itu Jobs harus menerima kenyataan terdepak dari perusahaan yang didirikannya karena kesalahannya sendiri. Apakah setelah itu Steve Jobs hancur? Ternyata tidak. Ia justru bangkit dan menjadi lebih hebat bersama Pixar dan NeXT, perusahaan yang dipimpinnya pasca keluar dari Apple.

Hingga kembali lagi ke Apple dan menanjak sukses sampai meninggalnya, Jobs mengajarkan kita untuk tidak berhenti saat gagal. Mencoba dan gagal biasanya memang telah menjadi satu paket. Tapi, kita tidak akan pernah tahu akan berhasil dipercobaann yang keberapa.

5. Temukan Partner yang Tepat

Jika seseorang memiliki satu atau beberapa kekurangan, maka hal itu bisa ditutupi oleh kelebihan orang lain. Sebaliknya pun demikian, jika kita memiliki suatu kelebihan, itu bisa digunakan untuk menutupi kelemahan irang lain dalam satu tim. Steve Jobs menemukan partner abadi pertamanya saat bersekolah di Homestead High School.

Orang itu adalah Steve Wozniak, Jobs dan Woz merasa cocok satu sama lain, karena sama-sama pandai serta tertarik kepada dunia elektronika. Saat Woz merancang komputer Apple I, Jobs merancang sistem penjualan dan distribusinya sehingga dibuatlah perusahaan Apple. Kerja sama dan pertemanan Jobs dan Woz, merupak suatu seleksi alam yang disebut simbiosis

Steve Wozniak
Setelah era bersama Woz, Jobs kembali menemukan partner yang membuatnya melesat makin tinggi bersama Apple. Orang itu adalah Jonathan Ive, direktur desain kreatif terbaik Apple. Ive dan Jobs membidani lahirnya iMac, iPod, iPhone, dan iPad, yang semuanya merupakan produk unggulan Apple.

Melakukan sesudah bersama orang yang tepat, sesungguhnya merupakan sebuah jaminan 5 langkah lebih maju. Woz dan Ive merupakan bagian dari partner terpenting dalam kesuksesan karier Jobs. Itu karena Jobs juga paham, tanpa mereka, dirinya tidak akan bisa melangkah lebih jauh saat itu.

(Sumber dari Buku Muhammad Vito Andolini - Steve Jobs Sang Legenda Teknologi Dunia)

0 comments:

Post a Comment