Tuesday, February 11, 2020

HIDUP JANGAN MANJA - Coretan Inspirasi

Beberapa saat yang lalu, ada seseorang yang menghubungi saya. Dia bercerita begini, Perkenalkan nama saya Fulan. Saya adalah guru sebuah SLB (Sekolah Luar Biasa) di Lawang, Malang. Saya seorang tunanetra. Saya adalah salah seorang penggemar buku-buku anda.

Jujur, awalnya saya penasaran, bagaimana cara dia membaca buku-buku saya, padahal hingga saat ini tidak ada satu pun buku saya yang diterjemahkan ke dalam huruf braille.

Dia lantas bercerita, selama ini saya membaca buku dengan menggunakan Software Screen Reader (pembaca layar khusus) untuk tunanetra. Software ini dirancang khusus, sehingga bisa membacakan tulisan dan tampilan yang tampak di display layar komputer dan smartphone yang saya gunakan, termasuk membaca tulisan yang berbentuk file pdf, microsoft word, dan notepad.

Untuk membaca buku-buku yang anda tulis, saya harus memfotokopi buku tersebut untuk kemudian di scan menggunakan scanner dan di confert menjadi file microsoft word supaya terbaca oleh software screen reader yang saya gunakan.

Oh, gitu. Nyenengin juga ya. Baca buku jadi kayak didongengin gitu. Dia pun merasa sangat bersyukur dengan kemajuan teknologi, karena dengan itu dia tetap terbantu dalam mengembangkan dirinya.

Baca Juga : Kisah Ketika Kalah Dalam Perlombaan

Dia kemudian bilang,"Tapi ada satu kendala, Mas."

Saya tanya,"Kendala apa itu?"

Dia bilang,"Hasil scan tidaklah selalu bagus. Selalu ada kesalahan di sana-sini, sehingga saya sering kehilangan beberapa isi buku."

Akhirnya saya pun memutuskan untuk mengirim beberapa file kepada beliau, semoga bisa membantu teman-teman di SLB itu untuk mendapatkan ilmu.

Saya lantas merenung, betapa tidak bersyukurnya kita yang diberikan kemampuan melihat oleh Allah namun mata kita justru digunakan untuk melihat hal-hal yang bernilai dosa. Sementara ada beberapa orang yang diberi ujian berupa kekurangan fisik, tetapi memiliki semangat belajar yang luar biasa seperti itu.

Ya, kita mengenal banyak sekali tokoh-tokoh besar dalam sejarah yang tidak mengeluhkan kekurangan yang ada dalam dirinya. Kekurangan itu alih-alih menjadikan semangat  belajarnya menurun. Kekurangan itu justru menjadi cambuk baginya untuk melejitkan prestasi.

Anak muda berprestasi bukan anak muda yang manja. Mereka bukann anak muda cengeng yang mudah mengeluh ketika menghadapi masalah dalam hidupnya.

Anak muda berprestasi menyadari bahwa untuk meraih kesuksesan, dia akan menghadapi banyak ujian dan rintangan. Perjalanan untuk menjadi orang hebat penuh dengan godaan. Oleh karenanya, dia tidak mudah menyerah hanya karena persoalan sepele yang ada didepannya.

Mentalnya tangguh. Geraknya gesit. Jiwanya pemberani. HAtinya gagah menghadapi masa depan yang penuh ketidakpastian.

Ketika anak muda lain menganggap masalah sebagai batu sandungan, anak muda berprestasi justru menganggapnya sebagai batu loncatan. Bagi anak muda berprestasi, kemenangan lebih berkesan ketika berhasil mengalahkan lawan yang tangguh.

(Ahmad Rifa'i Rif'an - Generasi Emas, 100 cara menjadi generasi unggul, berprestasi, dan berkontribusi)

0 comments:

Post a Comment