Tuesday, February 25, 2020

DELAPAN KEBOHONGAN SEORANG IBU - Coretan Inspirasi



Cerita bermula ketika aku masih kecil, aku terlahir sebagai seorang anak laku-laki di sebuah keluarga miskin. Bahkan untuk makan saja, seringkali kekurangan. Ketika makan, ibu sering memberikan bagian nasinya untukku. Sambil memindahkan nasi ke mangkukku, ibu berkata,"Makanlah Nak, aku tidak lapar!" -- Kebohongan ibu yang pertama.

Ketika aku tumbuh dewasa, ibu yang gigih sering meluangkan waktu senggangnya pergi memancing di kolam rumah, ia berharap ikan hasil pancingannya dapat memberikan sedikit makanan bergizi untuk pertumbuhanku. Pulang memancing ibu memasak sup ikan segar dan mengundang selera. Waktu aku memakan sup ikan itu, ibu duduk di samping kami dan makan sisa daging ikan yang masih menempel di tulang yang merupakan bekas sisa tulang ikan yang kumakan. melihat ibu seperti itu, hatiku tersentuh, lalu dengan sendok kuberikannya kepada ibuku. Tetapi ibu dengan cepat menolaknya, ia berkata,"Makanlah Nak, aku tidak suka makan ikan!"-- Kebohongan ibu yang kedua.

Sekarang aku sudah masuk sekolah menengah, demi membiayai sekolah abang dan kakaku, ibu pergi ke koperasi membawa sejumlah kotak korek api untuk ditempel dan uang hasil tempelannya dapat menutupu kebutuhan hidup kami. Di kala musim dingin tiba, aku bangun dari tempat tidur, melihat ibu masih bertumpu pada lilin kecil dan dengan gigihnya melanjutkan pekerjaan menempel kotak korek api. Aku berkata,"Ibu tidurlah, sudah malam, besok pagi ibu masih harus kerja." Ibu tersenyum dan berkata,"Cepatlah tidur Nak, aku tidak lelah!"-- Kebohongan ibu yang ketiga.

Ketika ujian tiba, ibu meminta cuti kerja supaya dapat menemaniku pergi ujian. Ketika hari sudah siang, terik matahari mulai menyinari, ibu yang tegar dan gigih menungguku di bawah terik matahari selama beberapa jam. Ketika bunyi lonceng berbunyi, menandakan ujian sudah selesai. Ibu dengan segera menyambutku dan menuangkan teh yang sudah disiapkan dalam botol yang dingin untukku. Teh yang begitu kental tidak dapat dibandingkan dengan kasih sayang yang jauh lebih kental. Melihat ibu yang dibanjiri peluh, aku segera memberikan gelasku untuk ibu sambil menyuruhnya minum. Ibu berkata,"Minumlah Nak, aku tidak haus!"-- Kebohongan ibu yang keempat. 

Setelah meninggalnya ayah karena sakit, ibu yang malang harus merangkap sebagai ayah dan ibu. Dengan berpegang pada pekerjaan dia yang dulu, dia harus membiayai keperluan hidup sendiri. Kehidupan keluarga kami pun semakin susah. Tiada hari tanpa penderitaan. Melihat kondisi keluarga yang semakin parah, ada seorang paman yang baik hati. Ia tinggal di dekat rumahku. Ia membantu ibuku baik masalah besar maupun masalah kecil. Tetangga yang ada di sebelah rumah melihat kehidupan kami yang begitu sengsara, seringkali menasihati ibuku untuk menikah lagi. Tetapi ibu yang memang keras kepala tidak mengindahkan nasihat mereka, ibu berkata,"Saya tidak butuh cinta."--Kebohongan ibu yang kelima.

Baca Juga : Hidup Jangan Manja

Setelah aku, kakakku, dan abangku semuanya sudah tamat dari sekolah dan bekerja, ibu yang sudah tua sudah waktunya pensiun. Tetapi ibu tidak mau, ia rela pergi ke pasar tiap pagi berjualan sedikit sayur untuk memenuhi keperluan hidupnya. Kakakku dan abangku yang bekerja di luar kota sering mengirimkan sedikit uang untuk membantu memenuhi keperluan ibu, tetapi ibu berkeras tidak mau menerima uang tersebut. Malah mengirim balik uang tersebut. Ibu berkata,"Saya ada uang."-- Kebohongan ibu yang keenam. 

Setelah lulus kuliah, aku pun melanjutkan sekolah master dan kemudian memperoleh gelar master di sebuah universitas ternama di Amerika aku pun bekerja di perusahaan itu. Dengan gaji yang lumayan tinggi, aku bermaksud membawa ibuku untuk menikmati hidup di Amerika. Tetapi ibu yang baik hati ini, tidak mau menyusahkan anaknya, ia berkata kepadaku, "Aku tak biasa tinggal di negara orang."-- Kebohongan ibu yang ketujuh.

Setelah memasuki usia yang tua, ibu terkena penyakit kanker usus, harus dirawat di rumah sakit, aku yang berada jauh di seberang Samudra Atlantik segera pulang menjenguk ibunda tercinta. Aku melihat ibu terbaring lemah di ranjangnya. Setelah menjalani operasi. Ibu kelihatan sangat tua, ia menatapku dengan penuh kerinduan. Walaupun senyum yang tersebar diwajahnya terkesan agak kaku karena sakit yang ditahannya. Terlihat dengan jelas betapa penyakit itu menyerang tubuh ibuku, sehingga ibuku terlihat lemah dan kurus kering. Aku menatap ibuku sambil berlinang air mata. Hatiku perih, sakit sekali melihat ibuku dalam keadaan seperti ini. Tetapi ibu dengan tegarnya berkata,"Jangan menangis anakku, aku tidak sakit."-- Kebohongan ibu yang kedelapan.  

Pesan : Di waktu kita masih mempunyai kesempatan untuk membalas budi orang tua kita, lakukanlah yang terbaik. Jangan sampai ada kata"menyesal" di kemudian hari.

(Deassy M Destiany - The Most Inspiring Story/Bukan Untuk Dibaca)

0 comments:

Post a Comment