Monday, December 16, 2019

BERJUANG SEPERTI POHON APEL - Coretan Inspirasi

Suatu saat, hidup sebatang pohon apel besar dan anak lelaki yang senang bermain di bawah pohon apel itu setiap hari. Ia senang memanjatnya hingga ke pucuk, memakan buahnya, tidur-tiduran di keteduhan rindang daunnya. Anak lelaki itu sangat mencintai pohon apel itu.

Pohon apel pun sangat mencintai anak kecil itu. Waktu terus berlalu. Anak lelaki itu kini telah tumbuh besar dan tidak lagi bermain-main dengan pohon apek itu setiap harinya. Suatu hari ia mendatangi pohon apel, wajahnya sedih."Ayo ke sini bermain-main lagi denganku," pinta pohom apel itu.

"Aku bukan anak kecil yang bermain dengan pohon lagi,"jawab anak itu."Aku ingin memiliki mainan, tapi aku tak punya uang untuk membelinya." Pohon apel menyahut,"Maaf aku pun tak punya uang, tapi kau boleh mengambil buah apelku dan menjualnya. Kau bisa mendapat uang untuk membeli mainan kegemaranmu."

Anak itu sangat senang. Ia memetik semua buah apel yang ada di pohon dan pergi dengan suka cita. Namun setelah itu si anak tak pernah datang lagi.

Pohon apel kembali sedih.

Suatu hari anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel sangat senang melihatnya."Ayo bermain denganku lagi," kata pohon apel. "Aku tak punya waktu," jawab anak lelaki itu."Aku harus bekerja untuk keluargaku. Kami butuh rumah untuk tempat tinggal. Maukah kau menolongku?"

"Maaf aku pun tak memiliki rumah. Tapi kau boleh menebang semua dahan rantingku untuk membangun rumahmu," kata pohon apel. Anak lelaki itu menebang semua dahan ranting pohon apek dan pergi dengan gembira.

Pohon apel juga merasa bahagia melihat anak lelaki itu senang, tapi anak lelaki itu tak pernah kembali lagi. Pohon apel merasa kesepian dan sedih. Pada suatu musim panas, anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel merasa dangat bersuka cita menyambutnya. "Ayo, bermain-main lagi denganku," ajak pohon apel.

Baca juga : Dahulukan Yang Paling Penting

"Aku sedih," kata anak lelaki itu."Aku sudah tua dan ingin hidup tenang. Aku ingin pergi berlibur dan berlayar. Maukah kau memberi aku sebuah kapal untuk pesiar?"

"Duh, maaf aku tak punya kapal, tapi kau boleh memotong batang tubuhku dan menggunakannya untuk membuat kapal yang kau mau. Pergilah berlayar dan bersenang-senanglah." Kemudian, anak lelaki itu memotong batang pohon apel itu dan membuat kapal yang diidamkannya. Ia lalu pergi berlayar dan tak pernah lagi datang menemui pohon apel itu.

Akhirnya, anak lelaki itu datang lagi setelah bertahun-tahun kemudian. "Maaf anakku," kata pohon apel itu. " Aku sudah tak memiliki buah apel algi untukmu."

"Tak apa, Aku pun sudah tak memiliki gigi untuk mengigitb buah apel apelmu," jawab anak lelaki itu. "Aku juga tak memiliki batang dan dahan yang bisa kau panjat," kata pohon apel. "Sekarang, aku sudah terlalu tua untuk itu," jawab anak lelaki itu.

"Aku benar-benar tak memiliki apa-apa lagi yang bisa kuberikan padamu yang tersisa hanyalah akar-akarku yang sudah tua dan sekarat ini," kata pohon apel itu menitikkan air mata. "Aku tak memerlukan apa-apa lagi sekarang," kata anak lelaki."Aku hanya membutuhkan tempat untuk beristirahat. Aku sangat lelah setelah sekian lama meninggalkanmu."

"ooh, bagus sekali. Tahukah kau, akar-akar pohon tua adalah tempat terbaik untuk berbaring dan beristirahat. Marilah berbaring di pelukan akar-akarku dan beristirahatlah dengan tenang." Anak lelaki itu berbaring di pelukan akar-akar pohon. Pohon apel itu sangat gembira dan tersenyum sambil meneteskan air matanya.

Pohon apel itu ibarat orang tua kita. Ketika muda, kita senang bermain-main dengan ayah dan ibu. Ketika tumbuh besar, kita meninggalkan mereka, dan hanya datang saat memerlukan sesuaut atau dalam kesulitan.

Tak peduli apa pun, orang tua kita akan selalu ada di sana untuk memberikan apa yang bisa mereka berikan untuk membuat kita bahagia. Kita mungkin berpikir, bahwa anak lelaki itu telah bertindak sangat kasar pada pohon itu, tetapi begitulah cara kita memperlakukan orang tua kita.

Pesan : Ingatlah dalam hati setiap kondisi apa pun, ada orang tua yang selalu mendoakan kita. Ketika kita sukses dan berkecukupan pastinya itu berkat doa orang tua. Saat kita ditimpa kemalangan pastinya yang seddi pertama kali adalah orang tua. 

Mereka selalu mengingat anak-anaknya, namun seringkali anak-anaknya melupakan untuk sekedar menyapa mereka. Padahal saat mereka tinggal berdua atau sudah sendirian saja, bahkan hanya sapaan dan kunjungan dari anak-anaknya saja. Sudahkah kita mengunjunginya?

(Deassy M. Destiani - Bukan Untuk Dibaca/The Most Inspiring Story)

0 comments:

Post a Comment