Saturday, November 30, 2019

AYAH, KASIH SAYANGMU TAK TERLIHAT NAMUN TERASA - Coretan Inspirasi

Pada suatu petang ada seorang yang sudah tua bersama anak mudanya yang baru menamatkan pendidikan tinggi duduk berbincang-bincang di halaman sambil memperhatikan suasana di sekitar mereka. Tiba-tiba seekor burung gagak hinggap di ranting pohon berhampiran.

Si ayah lalu menudingkan jari ke arah gagak sambil bertanya," Nak, apakah benda itu?"

"Burung gagak," jawab si anak.

Si ayah mengangguk-angguk, namun sejurus kemudian, sekali lagi ia mengulangi pertanyaan yang sama. Si anak menyangka ayahnya kurang mendengar jawabannya tadi lalu menjawab dengan sedikit kuat, "itu burung gagak, Ayah!"

Tetapi sejurus kemudian si ayah bertanya lagi dengan soal yang sama. Si anak merasa agak keliru dan sedikit bingung dengan persoalan yang sama diulang-ulang, lalu menjawab dengan lebih kuat,"burung gagak!"

Si ayah terdiam seketika. Namun tidak lama kemudian sekali lagi sang ayah mengajukan pertanyaan yang serupa, hingga membuat si anak hilang kesabaran dan menjawab dengan nada yang kesal kepada si ayah, "Gagaklah Ayah..."

Namun agak mengejutkan si anak, si ayah sekali lagi membuka mulut hanya untuk bertanya soal yang sama. Dan kali ini si anak benar-benar hilang kesabarannya dan menjadi marah. "Ayah! Saya tak tahu Ayah paham atau tidak. Tapi sudah lima kali Ayah bertanya soal hal tersebut dan saya sudah juga memberikan jawabannya. Apa lagi yang mau saya katakan?"

"itu burung gagak, burung ga...gak Ayah...," kata si anak dengan nada yang begitu marah.

Si ayah terus bangun masuk ke dalam rumah meninggalkan si anak yang kebingungan. Sesaat kemudian si ayah keluar lagi dengan sesuatu di tangannya. Dia mengulurkan benda itu kepada anaknya yang masih geram dan bertanya-tanya. diperlihatkannya sebuah Diary lama. "Coba kau baca apa yang pernah ayah tulis di dalam Diary itu," pinta si ayah.

Si anak setuju dan membaca paragraf seperti berikut ini...

"Hari ini aku di halaman melamun dengan anakku yang genap berumur lima tahun. Tiba-tiba seekor gagak hinggap di pohon."

"Anakku terus menunjuk ke arah gagak dan bertanya,"Ayah, apa itu?"

Aku menjawab," burung gagak"

Anakku terus bertanya soal serupa dan setiap kali aku menjawab dengan jawaban yang sama. Hingga 25 kali anakku bertanya demikian, dan demi cinta juga sayangnya, aku terus menjawab untuk memenuhi perasaan ingin tahunya. Aku berharap hal ini menjadi suatu pendidikan yang berharga."

Setelah selesai membaca paragraf tersebut si anak mengangkat muka memandang wajah si ayah yang kelihatann sayu.

Si ayah dengan perlahan bersuara,"Hari ini ayah baru bertanya kepadamu soal yang sama sebanyak lima kali dan kau telah kehilangan kesabaran dan marah."

Pesan : Jika kita mempunyai orang tua yang telah tua (lansia), berpikirlah bahwa mereka sekarang tidak segagah dan sekuat dulu, ketika mereka masih muda. Mereka sekarang telah kembali pada sosok anak-anak yang membutuhkan empati, bimbingan, dan perhatian, persis sama ketika kita anak-anak dulu. 

Jadi bersikaplah lebih sabar, telaten, dan dengarkan apa yang mereka mau, bukan yang kita mau seperti mereka juga melakukannya untuk kita dulu. 

(Deassy M. Destiani - bukan untuk dibaca/ The Most Inspiring Story)

Baca Juga : Jangan Gengsi Untuk Minta Maaf, Karena Meminta Maaf Membawa Berkah

1 comment: