Saturday, November 30, 2019

PERJUANGAN SEORANG IBU - Coretan Inspirasi

Kisah ini adalah kisah nyata sebuah keluarga miskin yang memiliki seorang anak laki-laki. Ayahnya sudah meninggal dunia. Tinggalah ibu dan anak laki-lakinya untuk saling menopang. Ibunya bersusah payah seorang diri membesarkan anaknya dan di saat itu kampung tersebut belum memiliki aliran listrik.

Saat membaca buku, sang anak tersebut hanya diterangi sinar lampu minyak, sedangkan ibunya dengan penuh kasih menjahitkan baju untuk sang anak. Saat memasuki musim gugur, sang anak memasuki sekolah menengah atas. Tetapi justru, saat itulah ibunya menderita penyakit rematik yang parah, sehingga tidak bisa lagi bekerja di sawah.

Setiap bulannya murid-murid diharuskan membawa 30 kg beras untuk dibawa ke kantin sekolah. Sang anak mengerti bahwa ibunya tidak mungkin bisa memberikan 30 kg beras tersebut, kemudian dia berkata kepada ibunya," Ma, saya akan berhenti sekolah dan membantu Mama bekerja di sawah!"

Ibunya mengelus kepala anaknya dan berkata,"Kamu memiliki niat seperti itu mama sudah senang sekali, tetapi kamu harus tetap ke sekolah. Jangan khawatir, kalau mama sudah melahirkan kamu, pasti bisa merawat dan menjaga kamu, cepatlah pergi daftarkan ke sekolah nanti berasnya biar mama yang bawa ke sana!"

Sang anak tetap bersikeras tidak mau mendaftarkan ke sekolah, mamanya menampar sang anak tersebut dan ini pertama kalinya sang anak dipukul oleh mamanya. Sang anak akhirnya pergi juga ke sekolah. Sang ibunya terus berpikir dan merenung dalam hati sambil melihat bayangan anaknya yang pergi menjauh.

Tak berapa lama, dengan langkah terpincang-pincang dan napas tergesa-gesa ibunya datang ke kantin sekolah dan menurunkan sekantong beras dari bahunya. Pengawas yang bertanggung jawab menimbang beras lalu menimbangnya seraya berkata,"Kalian para wali murid selalu suka mengambil keuntungan kecil, kalian lihat, di sini isinya campuran beras dan gabah. Jadi, kalian kira kantin saya ini tempat penampungan beras campuran?"

Ibu pun malu dan berkali-kali meminta maaf kepada ibu pengawas tersebut. Awal bulan berikutnya ibu memikul sekantong beras dan masuk ke dalam kantin. Ibu pengawas seperti biasanya mengambil sekantong beras dari kantong tersebut dan melihat dengan alis yang mengerut sambil berkata,"Masih dengan beras yang sama?"

Pengawas itu pun berpikir, apakah kemarin dia belum berpesan dengan ibu ini? Kemudian dia berkata, "Tak perduli beras apa pun yang ibu berikan kami akan terima, tapi jenisnya harus dipisah jangan dicampur bersama, kalau tidak beras yang dimasak tidak bisa matang sempurna. Selanjutnya kalau begini lagi maka saya tidak bisa menerimanya."

Sang ibu sedikit takut dan berkata, "Ibu pengawas, beras di rumah kamu semuanya seperti ini jadi bagaimana?" Pengawas itu pun tidak mau tahu dan berkata, "Ibu punya berapa hektar tanah sampai bisa menanam bermacam-macam jenis beras?"

Menerima pertanyaan seperti itu sang ibu tidak berani berkata-kata lagi. Awal bulan ketiga, sang ibu datang kembali ke sekolah. Sang pengawas kembali marah besar dengan kata-kata kasar dia berkata,"Kamu sebagai mama kenapa begitu keras kepala, kenapa masih tetap membawa beras yang sama,"Bawa pulang saja berasmu itu!"

Dengan berlinang air mata sang ibu pun berlutut di depan pengawas,"Maafkan saya, Bu, sebenarnya beras ini saya dapat dari mengemis." Setelah mendengar perkataan sang ibu, pengawas itu pun kaget dan tidak bisa berkata apa-apa lagi. Sang ibu akhirnya duduk di atas lantai, menggulung celananya dan memperlihatkan kakinya yang sudah mengeras dan membengkak.

Sang ibu menghapus air mata dan berkata,"Saya menderita rematik stadium akhir, bahkan untuk berjalan pun susah, apalagi untuk bercocok tanam. Anakku sangat mengerti kondisiku dan mau berhenti sekolah untuk membantuku bekerja di sawah. Tapi saya melarang dan menyuruhnya bersekolah lagi."

Selama ini sang ibu tidak memberi tahu sanak saudaranya yang ada di kampung sebelah, takut melukai harga diri anaknya. Setiap hari saat pagi-pagi buta dengan membawa kantong kosong dan bantuan tongkat sang ibu pergi ke kampung sebelah untuk mengemis. Barulah jika hari sudah gelap pelan-pelan sang ibu kembali ke kampung sendiri. Pada awal bulan semua beras yang terkumpul diserahkan ke sekolah.

Pada saat sang ibu bercerita, tanpa sadar air mata pengawas itu pun mengalir, seraya mengangkat ibu dari lantai dan berkata, "Bu sekarang saya akan melapor kepada kepala sekolah, supaya bisa memberikan sumbangan untuk keluarga ibu."

Sang ibu buru-buru menolak dan berkata,"Jangan, kalau anakku tahu ibunya pergi mengemis untuk biaya sekolah anaknya maka itu akan menghancurkan harga dirinya, itu juga akan menganggu sekolahnya. Saya sangat terharu dengan kebaikan hati Ibu Pengawas, tapi tolong ibu bisa menjaga rahasia ini."

Akhirnya masalah ini diketahui juga oleh kepala sekolah. Secara diam-diam kepala sekolah membebaskan biaya sekolah dan biaya hidup anak tersebut selama tiga tahun. Setelah tiga tahun kemudian, sang anak akhirnya lulus dan masuk ke Perguruan Tinggi Qing Hua dengan nilai 627 poin. Di hari perpisahan sekolah, kepala sekolah sengaja mengundang ibu dari anak ini duduk di atas tempat duduk utama.

Sang ibu merasa aneh, begitu banyak murid yang mendapat nilai tinggi, tetapi mengapa hanya ibu ini yang diundang. Lebih anehnya lagi di sana masih terdapat tiga kantong beras. Pengawas sekolah tersebut akhirnya maju ke depan dan menceritakan kisah sang ibu ini yang mengemis beras demi anaknya bersekolah.

Kepala sekolah pun menunjukkan tiga kantong beras itu dengan penuh haru,"Inilah sang ibu dalam cerita yang saya sampaikan tadi." Kepala sekolah mempersilakan sang ibu yang sangat luar biasa untuk naik ke atas miimbar.

Anak dari sang ibu tersebut dengan ragu-ragu melihat ke belakang dan melihat gurunya menuntun mamanya berjalan ke atas mimbar. Sang ibu dan sang anak pun saling bertatapan. Pandangan mama yang hangat dan lembut tertuju kepada anaknya. Akhirnya sang anak pun memeluk dan merangkul erat ibunya dan berkata,"Oh....Mamaku..."

Pesan : Banyak yang tidak tahu besarnya pengorbanan seorang ibu. Semua itu dilakukannya dengan penuh keikhlasan untuk memperjuangkan nasib anak-anaknya. Terkadang, ia rela tidak makan, jika melihat anaknya belum makan. Ia rela bekerja keras, meskipun menyakiti fisiknya asal melihat anaknya sukses. Apa pun akan dilakukan seorang ibu untuk melihat anaknya berhasil dalam hidupnya. Sudahkah kita ucapkan terima kasih kepada kedua orang tua kita?

(Deassy M. Destiani - bukan untuk dibaca/The Most Inspiring Story) 

Baca juga : Akibat Tidak Tahu Terima Kasih

AYAH, KASIH SAYANGMU TAK TERLIHAT NAMUN TERASA - Coretan Inspirasi

Pada suatu petang ada seorang yang sudah tua bersama anak mudanya yang baru menamatkan pendidikan tinggi duduk berbincang-bincang di halaman sambil memperhatikan suasana di sekitar mereka. Tiba-tiba seekor burung gagak hinggap di ranting pohon berhampiran.

Si ayah lalu menudingkan jari ke arah gagak sambil bertanya," Nak, apakah benda itu?"

"Burung gagak," jawab si anak.

Si ayah mengangguk-angguk, namun sejurus kemudian, sekali lagi ia mengulangi pertanyaan yang sama. Si anak menyangka ayahnya kurang mendengar jawabannya tadi lalu menjawab dengan sedikit kuat, "itu burung gagak, Ayah!"

Tetapi sejurus kemudian si ayah bertanya lagi dengan soal yang sama. Si anak merasa agak keliru dan sedikit bingung dengan persoalan yang sama diulang-ulang, lalu menjawab dengan lebih kuat,"burung gagak!"

Si ayah terdiam seketika. Namun tidak lama kemudian sekali lagi sang ayah mengajukan pertanyaan yang serupa, hingga membuat si anak hilang kesabaran dan menjawab dengan nada yang kesal kepada si ayah, "Gagaklah Ayah..."

Namun agak mengejutkan si anak, si ayah sekali lagi membuka mulut hanya untuk bertanya soal yang sama. Dan kali ini si anak benar-benar hilang kesabarannya dan menjadi marah. "Ayah! Saya tak tahu Ayah paham atau tidak. Tapi sudah lima kali Ayah bertanya soal hal tersebut dan saya sudah juga memberikan jawabannya. Apa lagi yang mau saya katakan?"

"itu burung gagak, burung ga...gak Ayah...," kata si anak dengan nada yang begitu marah.

Si ayah terus bangun masuk ke dalam rumah meninggalkan si anak yang kebingungan. Sesaat kemudian si ayah keluar lagi dengan sesuatu di tangannya. Dia mengulurkan benda itu kepada anaknya yang masih geram dan bertanya-tanya. diperlihatkannya sebuah Diary lama. "Coba kau baca apa yang pernah ayah tulis di dalam Diary itu," pinta si ayah.

Si anak setuju dan membaca paragraf seperti berikut ini...

"Hari ini aku di halaman melamun dengan anakku yang genap berumur lima tahun. Tiba-tiba seekor gagak hinggap di pohon."

"Anakku terus menunjuk ke arah gagak dan bertanya,"Ayah, apa itu?"

Aku menjawab," burung gagak"

Anakku terus bertanya soal serupa dan setiap kali aku menjawab dengan jawaban yang sama. Hingga 25 kali anakku bertanya demikian, dan demi cinta juga sayangnya, aku terus menjawab untuk memenuhi perasaan ingin tahunya. Aku berharap hal ini menjadi suatu pendidikan yang berharga."

Setelah selesai membaca paragraf tersebut si anak mengangkat muka memandang wajah si ayah yang kelihatann sayu.

Si ayah dengan perlahan bersuara,"Hari ini ayah baru bertanya kepadamu soal yang sama sebanyak lima kali dan kau telah kehilangan kesabaran dan marah."

Pesan : Jika kita mempunyai orang tua yang telah tua (lansia), berpikirlah bahwa mereka sekarang tidak segagah dan sekuat dulu, ketika mereka masih muda. Mereka sekarang telah kembali pada sosok anak-anak yang membutuhkan empati, bimbingan, dan perhatian, persis sama ketika kita anak-anak dulu. 

Jadi bersikaplah lebih sabar, telaten, dan dengarkan apa yang mereka mau, bukan yang kita mau seperti mereka juga melakukannya untuk kita dulu. 

(Deassy M. Destiani - bukan untuk dibaca/ The Most Inspiring Story)

Baca Juga : Jangan Gengsi Untuk Minta Maaf, Karena Meminta Maaf Membawa Berkah

Friday, November 29, 2019

JANGAN KEBANYAKAN TERTAWA - Inspirasi dari Hanan Attaki



Biasanya kalau kita ingin bercanda membuat hati kita merasa bahagia karena biar tidak bosan. Bercanda untuk menghilangkan sedih, bercanda untuk menghilangkan stres, bercanda supaya mendapatkan energi baru. Ternyata ada yang lebih efektif dari pada bercanda kalau kita ingin semangat lagi. kalau kita ingin survive dari sebuah masalah ada yang lebih efektif dari bercanda, walaupun bercanda itu boleh. Apa yang lebih efektif ? MENANGIS.

"Menangis itu menitikkan air mata itu lebih powerfull dari pada tertawa. Cuma kita lebih sering memilih tertawa dari pada menangis. Sama kaya orang lebih senang minum kopi, walaupun minum kopi itu boleh  daripada minum air putih. Padahal lebih menyehatkan minum air putih cuma kan tidak ada sensasinya. Coba kita ubah mindset dari boleh minum kopi tapi yakinlah air putih lebih baik daripada kopi. Karena kata Rasulullah air itu bersih dan membersihkan.

Nah, bercanda sama menangis ibaratnya sama, boleh bercanda tapi jangan kebanyakan. Bercanda sewajarnya saja, tapi banyaklah menangis karena menangis itu air mata kita menggugurkan dosa dan membersihkan hati yang kotor. Air mata itu seperti hujan kalau di Arab hujan itu diibaratkan membersihkan rumah, daun-daun dari debu karena mereka dipadang pasir daun banyak yang berdebu dibersihkan oleh hujan. Maka dari itu air mata membersihkan hati seseorang, Said Ust Hanan Attaki.

Coba nanti bayangkan kesan habis ketawa sama habis nangis. Habis ketawa seru tapi capek, tapi kalau nangis InsyaAllah tidak akan capek karena nangisnya karena dosa-dosa, nangisnya karena ingat Allah, nangisnya karena ingat akhirat, itu tidak akan capek. Justru, habis nangis semangat tuh, beda banget kesannya habis nangis dan habis ketawa. Makanya ketawanya jangan kebanyakan. Nabi mengatakan 'kalau kalian melihat apa yang aku lihat, kalian akan sedikit tertawa. boleh ketawa tapi sedikit dan banyak menangis',

Ketika kita bisa menangis mata kita termasuk mata yang diberkahi. Justru salah satu diantara bukti seseorang itu jauh dari Allah dia matanya menjadi beku tidak pernah bisa menangis. Dan setelah menangis pasti kesannya berbeda, ketimbang setelah ketawa. Nabi mengatakan 'kebanyakan ketawa itu bisa mematikan rasa dihati kita, tidak bisa lagi mendengar kebaikan'. Makanya jangan kebanyakan ketawa, ketawa boleh tapi jangan kebanyakan. #Sharing

Baca Juga : Jangan Ke Ge'eran Kalau Hidup Kita Merasa Nyaman

JANGAN KE GE'ER AN KALAU HIDUP KITA MERASA NYAMAN - Inspirasi dari Hanan Attaki

Kalau kita merasa bahwa hidup kita lebih nyaman dari pada hidup teman kita yang ahli ibadah jangan ke ge'eran. Jangan-jangan kita sedang diberikan nikmat biasa sedangkan ia diberikan nikmat yang luar biasa. Apa nikmat yang luar biasa, kenapa dia miskin terus? karena Allah ingin dekat dengan dia. Mungkin dengan miskin dia seneng berdoa, dengan dia sakit dia selalu berdoa, dengan dapat masalah besar dia sering berdoa sedangkan kita ketika dikasih solusi kelapangan rizki jarang berdoa.

"Karena biasanya kalau kita ngomongin tentang nikmat identik dengan syukur, trus kalau ujian identik dengan sabar. Tapi nggak selalu begitu keadaannya kadang-kadang nikmat itu bisa bikin kita ge'er. Ujian bisa bikin kita salah sangka kepada Allah Swt seolah-olah Allah kalau ngasih ujian ke kita ga suka sama kita. Padahal kadang kalau Allah kasih ujian itu tandanya masih perhatian ke kita. Kenapa perhatiannya ngasih ujian?

Bisa banyak banget alasannya, bisa menghapuskan dosa-dosa kita, bisa ingin mengangkat drajat kita, walaupun kita ga usah terlalu ke ge'eran disana minimal menghapus dosa-dosa ya. Bisa juga emang, mungkin hanya dengan cara dikasih ujian kita rajin beribadah. Ternyata kadang ketika kita dikasih nikmat kita jadi ke ge'eran. Jangan-jangan nikmat itu bukan sebuah anugerah. Harus banyak intropeksi diri dalam hidup. Jangan kalian menganggap diri kalian udah baik, sholeh, suci Allah lebih tau siapa yang lebih taat, Said Ust Hanan Attaki."

Lakukan yang terbaik dalam hidup kita, usahakan bisa bermanfaat untuk orang lain. Karena apa yang kita lakukan, akan kita petik dikemudian hari. Maka dari itu selalu tanamkan kepada diri kita untuk terus berbuat baik dan selalu berdoa kepada Allah apapun yang kita lakukan serahkan semuanya kepada Allah. #Sharing 

Baca Juga : Manisnya Buah Bagi Orang-orang Yang Sabar


JANGAN BERSEDIH, KARENA INI SEMUA SUDAH MENJADI KETETAPAN ALLAH - Inspirasi dari Hanan Attaki

Apa yang hari ini kita anggap sesuatu seperti kekalahan, suatu musibah, suatu kesulitan. Suatu hari nanti ketika kita paham kita akan mengatakan itu nikmat. Karena apa yang telah terjadi dan belum terjadi itu semua sudah dituliskan oleh Allah. Hanya saja kita harus berusaha semaksimal mungkin untuk menggapai apa yang kita inginkan dalam hidup.

Gimana pun kondisinya yang kita alami hanya ada satu syarat jangan keluar dari jalur yang Allah ridhoi, itu aja syaratnya. Kenapa? karena kalau kita sudah melanggar, gimana pun kita sekarang sedang dapat nikmat banyak trus kita melakukan dosa yang Allah tidak suka. Nikmat itu bisa berubah musibah. Sebaliknya ada musibah kita masih on the track musibah itu bisa berubah menjadi nikmat.

"Syarat yang Allah minta hanya satu itu jangan melanggar, jangan bikin dosa, jangan ngecewain Allah swt, itu doang. Udah itu bertahan aja Allah akan kasih kejutan-kejutan dalam hidup kita. Kita butuh waktu untuk mengerti rencana Allah itu apa. Sama kaya sekarang kita butuh waktu untuk mengerti mengapa diusia segini masih sendiri. Butuh waktu untuk mengerti, mungkin Allah lagi mempersiapkan calon imam kita yang ideal banget. Untuk mendapatkan seseorang yang ideal itukan butuh waktu.

Kalau yang apa adanya diobral gitu kan gampang. Karena ini istimewa kaya permata, mutiara itu benar-benar dibentuk sangking istimewanya butuh waktu yang lama. Kita akan dikasih pasangan yang istimewa makanya butuh waktu untuk bersabar, Said Ust Hanan Attaki."

Semua yang terjadi pada diri kita itu semua sudah menjadi ketetapan Allah. Sekuat apapun kita menginginkan sesuatu kalau itu bukan menjadi milik kita tidak akan bisa. Tapi sebaliknya jika itu sudah menjadi rezeki kita, sekuat apapun orang lain ingin mengambil tidak akan bisa. Percayalah sesuatu yang terjadi jika kita serahkan semua kepada Allah akan indah pada waktunya. #Sharing

Baca Juga : Jangan Kebanyakan Tertawa

Saturday, November 9, 2019

MANISNYA BUAH BAGI ORANG-ORANG YANG SABAR - Inspirasi dari Ust Hanan Attaki

Pernah punya pengalaman yang menyakitkan ga sih dalam hidup?
Kalo pernah berarti kita sama :( .

Sudah melamar pekerjaan ke berbagai perusahaan, akhirnya ditolak. Berusaha untuk memenangkan perlombaan tapi gagal. Ingin masuk ke universitas yang diinginkan tapi ga lolos. Apalagi udah ada rencana mau melamar eh ga disetujuin sama orang tuanya.

Duh, double dah sakitnya.Itulah hidup terkadang kita bisa merasakan bahagia juga bisa merasakan tidak enak. Bagaimana cara kita mengatasi masalah yang ada.

Tentu semua ini butuh yang namanya kesabaran yang besar untuk menghadapi semua ini. Sabar juga ada tingkatannya yang membuat kita tau apa yang harus kita lakukan jika permasalahan sebesar apapun yang terjadi di kehidupan kita.

"Sabar itu ada tiga tingkatan, tingkatan pertama tuh sabar dalam menghadapi ujian wabasysyirish shobirin kata Allah di Surah Al Baqarah. Sampaikan berita gembira kepada orang yang bersabar terhadap ujian. Nah gimana sabar terhadap ujian? kalau kita dapetin ujian, kita tinggal bilang innaa lillah wainnaa ilayhi raaji'uun dan itu kita katakan tuh dengan hati yang yakin ini semuanya kehendak Allah. Dan pasti ada kebaikan didalam kehendak Allah dan siapa yang mengatakan innaa lillah wainnaa ilayhi raaji'uun berarti dia melibatkan Allah dalam musibah.

Jadi kata kunci atau password untuk melibatkan Allah dalam musibah kita. Pertama bilang innaa lillah wainnaa ilayhi raaji'uun Allah pasti terlibat. Jadi kalau kita pengen libatkan Allah dalam musibah kita pertama pake passwordnya dulu langsung Allah tawarkan banyak jalan keluar dalam musibah kita. Karena kita hanya perlu mengatakan innaa lillah wainnaa ilayhi raaji'uun.

Sabar level dua itu adalah sabar dalam meninggalkan dosa. Ternyata ninggalin dosa juga butuh sabar, sabar untuk ga melakukan dosa walaupun mungkin dosa itu udah biasalah. Orang lain juga ngelakuin yang kaya gitu.

Sabar untuk ga kepoin instagram orang misalnya atau instagram mantan misalnya ya? haha. Karena kalau kita kepoin ga bakalan sabar. Sabar untuk menjaga pandangan? pandangan mata. Apalagi sabar untuk ninggalin untuk tidak jalan sama dia kalau belum halal.

Itu butuh kesabaran dan itu ga gampang, apalagi kalau misalnya sesuatu yang bener-bener kita senengin gitu kaya sabar untuk ninggalin hal yang sia-sia gitu dan itu sabar yang lebih tinggi derajatnya daripada sabar terhadap musibah itu temen-temen.

Sabar level tiga itu adalah sabar dalam beribadah jadi kalau level satu tuh sabar dalam menghadapi musibah, level dua sabar meninggalkan dosa, level tiga sabar dalam ibadah. Sholat sabar, puasa sabar, sedekah, tilawah segala macem ibadah-ibadah sabar ini sabar yang paling tinggi nih.

Tapi tiga sabar ini bukan pilihan temen-temen kalau misalnya kita 'ah saya mah yang level tiga aja yang sabar ibadah'. Tapi kalau musibah ngeluh, kalau dosa belum bisa ninggalin berarti belum sempurna sabarnya

Baru disebut orang yang sabar 'SHOBIRIN' kalau dia bisa sabar dengan tiga-tiganya kalau kita ga sabar dalam ketaatan dalam berbuat baik bisa jadi kita kehilangan pahala berbuat baik. Hanya gara-gara tidak sabar."Said Ust Hanan Attaki.

Berusaha untuk selalu sabar itu bukan ada batasnya melainkan tidak ada batasnya, karena kalau ada batasannya berarti kita belum sabar dalam menghadapi masalah yang ada dikehidupan kita. Apa yang kita lakukan kalau memang itu baik buat diri kita jangan dipusingkan omongan-omongan yang membuat hati kita merasa down. Fokus aja terhadap apa yang kita ingin capai dan selalu berdoa untuk hasilnya kita serahkan semua kepada sang pencipta. #Sharing

Baca Juga : Jangan Kebanyakan Tertawa