Wednesday, August 28, 2019

JANGAN GENGSI UNTUK MINTA MAAF, KARENA MEMINTA MAAF MEMBAWA BERKAH - Coretan Inspirasi

Dikisahkan dalam sejarah islam, ada seorang pemuda alim bernama Abu Shalih. Ia adalah keturunan ke-12 dari Rasulullah Saw., dari garis Sayyidina Hasan as-Sibthi Ra. ia berasal dari desa Jilan, Iran.Suatu siang, saat Abu Shalih tengah berjalan di pinggir sungai, tiba-tiba dilihatnya kumpulan buah apel yang hanyut terbawa aliran sungai.

Segera ia mengambilnya sebuah dan memakannya. Namun, ia tiba-tiba berhenti mengunyah. Ia merasa bersalah. "Aku telah mencuri. Buah ini pasti ada yang memiliki. Aku harus menemui dan meminta maaf pada pemilik pohon apel yang buahnya telah kumakan tanpa seizinnya," katanya dalam hati.

Abu Shalih lalu berjalan menyusuri sungai hingga menemukan pohon apel ttersebut. Segera ia menemui pemilik pohon apel itu untuk meminta maaf. Pemilik pohon apel itu bernama Syakh Abdullah, beliau adalah keturunan Sayyidina Husain Ra. Beliau adalah seorang waliyullah yang sangat disegani pada masa itu.

Saat Abu Shalih menyampaikan permintaan maaf, Syekh Abdullah merasa senang dan takjub akan kebersihan hati pemuda Jilan ini. Beliau lalu bermaksud ingin mengangkat Abu Shalih sebagai santrinya. Namun, tidak secara transparan maksud itu disampaikannya.

"Baiklah! Karena kau telah mencuri buah apelku, maka kau harus bekerja di ladangku selama 12 tahun," kata Syekh Abdullah. Tanpa banyak bertanya, Abu Shalih langsung menyanggupi. Ia lalu bekerja sekaligus belajar agama kepada Syekh Abdullah.

Setelah tunai 12 tahun, Abu Shalih membayar kesalahannya, ia lalu menemui gurunya, Syekh Abdullah, untuk menanyakan apakah permintaan maafnya sudah dapat diterima. Bukan pernyataan bahwa maafnya telah diterima, Syekh Abdullah justru memberinya sebuah tugas baru.

"Aku akan menerima permintaan maafmu jika kau bersedia kunikahkan dengan putriku, seorang wanita yang lumpuh, buta, tuli, dan bisu," kata Syekh Abdullah. Seperti biasa, Abu Shalih tidak banyak bertanya. Ia langsung menerima amanah tersebut, dengan harapan semoga permintaan maafnya diterima oleh sang guru.

Tiga hari kemudian, dilangsungkanlah akad nikah dan walimatul'ursy (syukuran) antara Abu Shalih dengan wanita pilihan gurunya. Malam hari, ketika hendak memasuki kamar pengantin, Abu Shalih terdiam sejenak.

"Ya Allah, aku pasrahkan hidup dan matiku hanya kepada-Mu," doanya di dalam hati. Dengan perlahan, diketuknya pintu kamar pengantin tersebut, lalu ia membukanya dan masuk sambil mengucapkan salam.

Sang pengantin wanita menjawab salamnya. Abu Shalih terkejut bukan main. Seorang wanita berparas cantik datang menghampirinya dengan senyum menghiasi wajahnya. Sembari meminta maaf, ia lalu keluar kamar, ia kemudian mencari istrinya di kamar yang lain, namun tidak juga ditemuinya.

Akhirnya, Abu Shalih mendatangi Syekh Abdullah untuk menanyakan di manakah istrinya berada. "Bolehkah aku bertanya, dimanakah istriku berada?" tanya Abu Shalih dengan ta'zhim. "Ya, di kamar pengantin," jawab Syekh Abdullah sembari tersenyum.

"Tetapi, wanita yang kutemui di kamar itu tidak seperti yang dikatakan. ia tidak bisu dan tuli, ia menjawab salamku ia juga tidak buta, justru matanya cantik sekali. Dan, ia pun tidak lumpuh, ia malah menghampiriku saat aku memasuki kamar," jelas Abu Shalih masih dengan wajah kebingungan.

Melihat kebingungan Abu Shalih, Syekh Abdullah malah tertawa tterbahak-bahak. Usai tertawa, beliau baru berkata, " Wahai Abu SHalih, memang itulah putriku, Ummu Khair Fathimah. Kukatakan ia lumpuh karena ia tidak pernah menjejakkan kakinya ke tempat maksiat.

Buta karena ia tidak pernah melihat hal yang haram. Tuli karena ia tidak pernah mendengar hal yang berbau khurafat (jelek). Dan, bisu karena ia tidak pernah bertutur yang mubazir (sia-sia)." Mengertilah Abu Shalih bahwa amanah menikahi putri gurunya ungkapan kasih sayang dan rasa bangga Syekh Abdullah padanya.

Karena kesabaran dan kemuhasabahannya kepada sang guru dan amanahnya, Allah memberikan kepada Abu Shalih amanah yang penuh anugerah. Dari pernikahan ini, Abu shalih dan Ummu Khair Fathimah dianugerahi seorang putra bernama Abdul Qadir. Kelak, setelah dewasa, putranya ini masyhur sebagai seorang Wali Quthub, Syekh Abdul Qadie al-jailani. Sedangkan Abu Shalih sendiri dikenal dengan nama Syekh Abu Shalih Musa Jankai Dausat al-Jailani (berasal dari Jilan)

Baca Juga : Ayah, Kasih Sayangmu Tak Terlihat Namun Terasa

0 comments:

Post a Comment