Wednesday, March 20, 2019

TERIMALAH KRITIK, SINGKIRKAN SAKIT HATINYA - Coretan Inspirasi


"Satu-satunya cara untuk menerima kritik adalah dengan berbesar hati. 
Tidak ada cara lain yang lebih baik dari itu." 
(-Ara- The Amazing of Ikhlas)

Memang tidak mudah bagi beberapa orang ketika mereka menerima kritikan. Padahal, kritikan itu tidak selamanya buruk. 

Kalau di sebuah perusahaan besar, kritik adalah justru masukan bagi mereka untuk mengetahui kelemahan produk atau layanan mereka. 

Dari sana bisa diperbaiki dan disempurnakan untuk mendapatkan keuntungan yang lebih maksimal.

Seseorang yang menerima kritik sebagai sesuatu yang menyakitkan biasanya yang harga diri dan egonya terlalu tinggi. 

Bayangkan saja misalnya ada seseorang pembuat kapal yang sudah sangat ahli karena sudah puluhan tahun membuat kapal.

Tiba-tiba ada seorang pegawai cukup baru dengan ilmu pengetahuan yang juga baru. Kemudian pegawai itu mengatakan sesuatu bahwa ada kelemahan dalam rancangan baru tersebut. 

Karena situasi berubah, kadar garam laut dan polusi udara berubah. Bahan yang sama tidka bisa digunakan lagi. Harus diperbarui.

Jika pembuat kapal itu berbesar hati, dia akan mendengarkan, menganalisa, dan jika terbukti benar, akan memperbaiki rancangannya. 

Jika salah, setidaknya ada ilmu baru yang pasti bisa dipelajari. Setidaknya, dia mendengarkan dulu. Itu yang pertama. 

Tetapi jika tidak, kebalikannya, mungkin pembuat kapal itu akan memarahi pegawai baru dan mengatakan bahwa dia sudah berpengalaman puluhan tahun, sedangkan pegawai itu baru saja lulus dari pendidikannya.

Contoh lain, seorang doktor memarahi seorang editor sebuah penerbitannya karena mengedit tulisannya dan menyarankan revisi pada beberapa bagian naskahnya. 

Dia kemudian bertanya S3 editor di mana? S2 di mana? Sudah memberi seminar di mana saja?

Itu adalah sebuah pertanyaan yang mencerminkan tidak menerima masukan atau kritik. 

Padahal memang seorang doktor paham benar apa yang dia tulis, tapi kaidah penulisan yang sesuai pasar, tentu editor yang lebih tahu.

Lagipula tidak mungkin editor merugikan tempatnya bekerja dengan menghancurkna naskah yang dieditnya sendiri. 

Masalahnya, harga diri dan ego sang doktor yang merasa terluka ketika naskahnya direvisi.

Jadi, sebenarnya, tidak semua kritik itu buruk. Harga diri kita yang membuat kritik terlihat buruk. Jika selamanya seperti itu, kita tidak akan bisa maju. 

Kita terlalu puas tentang diri kita, merasa tinggi hati, somboong dengan apa yang kita punyai dan kita bisa. Justru itu yang akan menjatuhkan seseorang. 

Bahkan, sebuah perusahaan yang merasa puas, dia akan didahului oleh perusahaan yang merasa puas, dia akan didahului oleh perusahaan yang selalu ingin berkembang. 

Kepuasaan membuat seseorang berhenti berusaha karena mereka sudah berada di puncak.

Syukur adalah menerima, puas adalah merasa sudah  tidak ada lagi yang perlu diraih. 

Terimalah kritik. Singkirkan sakit hatinya, lihat sisi baik dari kritik tersebut karena sebuah kritik selalu ditujukan pada apa yang kurang dari kita. 

Kenapa harus marah dan tidak menerima jika justru dengan kritik itu kita jadi tahu apa saja yang harus kita perbaiki?

(Tulisan -ARA- The Amazing Of Ikhlas)

0 comments:

Post a Comment