Sunday, February 17, 2019

TIDAK PERLU MERATAPI KESEDIHAN - Coretan Inspirasi

"Barangkali kehilangan adalah salah satu cara Allah untuk mengajarkan kita tentang melepaskan dan membuat kita paham bahwa segala sesuatu sebenarnya bukan milik kita, tetap milik-Nya". (-ARA- The Amazing Of Ikhlas)

Ada satu pasangan tua yang tinggal di pinggiran desa. Mereka saling mencintai dan berbahagia sehingga para penduduk desa pun ingin jatuh cinta dan berbahagia seperti mereka.

Pada suatu ketika, setelah 34 tahun mereka bersama, sang suami jatuh sakit sampai akhirnya meninggal dunia. Anak-anak mereka mencoba menghibur sang ibu, tapi tidak berhasil. Para tetangga pun melakukan hal serupa tapi tetap gagal. Minggu dan bulan berganti, sang istri terus meratap. Badannya bertambah kurus dan tidak terawat.

Lalu ada seorang asing yang datang ke desa itu. Pada awalnya semuanya tidak terlalu menggubrisnya karena orang asing selalu datang dan pergi. Tapi setelah beberapa lama, orang asing ini sangat menyenangkan. Orang-orang sering menanyakan kepadanya suatu masalah untuk diselesaikan. Hampir semuanya bisa diselesaikannya dengan pendapat yang sangat bijak.

Setelah beberapa lama, penduduk desa mulai teringat perempuan tua itu yang masih meratap dan menceritakannya kepada orang asing bijak. Dia lalu mengunjungi wanita itu, duduk di sana, dan berbincang penuh kehangatan. Si orang asing meminta si wanita bercerita tentang kesedihannya.

Si wanita kemudian mulai bercerita sambil berurai air mata, bahwa dia sangat merindukan suaminya. Sepertinya sangat tidak adil. Kenapa dia harus kehilangan seseorang yang sangat dicintainya. Kenapa dia harus menderita seperti ini? Kenapa dia tidak bisa lupa?

Orang asing tersebut berjanji untuk membuat perasaan wanita tersebut lebih lega. Ini adalah obat paling manjur sedunia untuk mengobati duka. Si wanita terkejut dan tertarik. Dia bertanya, apa saja yang diperlukan? Dia akan membantu sebisanya.

Orang asing itu memberikan biji mustar kepadanya."Datangilah setiap rumah di desa ini, tanyakan kepada setiap rumah apakah mereka pernah mengalami kesedihan atau tidak. Apakah mereka pernah kehilangan atau tidak. Berikan biji mustar ini pada rumah yang tidak mengalami kesedihan dan kehilangan."

Wanita itu bingung dan bertanya, "Setelah itu? Bagaimana dengan obatnya?". "Lakukan itu saja dulu dan akan saya berikan obatnya setelah itu."

Maka berangkatlah wanita itu dan menanyakan ke setiap rumah. Rumah pertama dia menerima jawaban, bahwa keluarga itu pernah kehilangan seorang anak. Anak itu harusnya lahir, tapi meninggal sebelum dilahirkan. 

Rumah kedua pernah kehilangan seorang kakek yang sangat dicintai yang membuat mereka sedih bukan kepalang. Rumah ketiga bercerita sambil meneteskan air mata bahwa dia merindukan ayahnya yang meninggal dalam perang.

Wanita tersebut terus bertanya untuk memberikan biji mustarnya. Akan tetapi, sampai puluhan rumah yang dia datangi, tidak satu pun biji mustarnya bisa diberikan. Dia malah melihat banyak sekali tangis di setiap rumah. Mereka pernah kehilangan, berair mata, berduka, tapi sekarang mereka bisa melanjutkan hidupnya.

Pelan-pelan, dia mulai lupa tentang biji mustarnya. Dia melihat ada keluarga yang ditinggal suami, lalu sang istri menunjuk anaknya sambil tersenyum bahagia. Anaknya lucu dan berlarian ke sana kemari. Di bagian lain, ada keluarga yang bercerita tentang betapa menakjubkannya kakeknya ketika masih hidup.

Wanita itu mendengar banyak cerita. Ikut tersenyum ketika melihat anak lucu, ikut terkagum dengan cerita orang-orang dulu sebelum meninggal. Selang berapa lama, wanita itu menemui kembali orang asing yang akan pergi meninggalkan desa sambil menggenggam biji mustarnya.

"Maaf, tidak ada biji mustar yang bisa kuberikan. Semuanya pernah mengalami kehilangan dan kesedihan. Ini saya kembalikan."

Orang asing itu menjawab,"Itu obatnya. Kita sudah pulih dari dukamu. Kita harus keluar dan melihat dunia lain bahwa tidak peduli seberapa meratapnya seseorang ketika kehilangan, dunia masih bisa berjalan. Orang-orang masih tersenyum, bayi-bayi masih lahir, matahari dan hujan bergantian mengguyur bumi, masih banyak tawa di sana-sini. Yang harus dilakukan adalah keluar dan melihat semuanya. Meratap tidak pernah membuat hati menjadi lebih baik."

Kita bisa melakukan hal yang sama terhadap perasaan kehilangan kita. Coba tanyakan kepada semua orang yang kita kenal dan kita temui. Pernahkah mereka merasa kehilangan? Pasti pernah karena kehilangan adalah sesuatu yang cepat atau lambat akan dialami oleh orang. Begitu juga dengan kita.

Jadi, apakah itu berarti tidak boleh bersedih? Tentu saja boleh. Tapi secukupnya saja. Jangan meratap terlalu lama. Perasaan sedih adalah hal yang wajar, tapi dunia juga terus berjalan. Jika kita terus-terusan meratap, kita akan ketinggalan.

Meratap tidak pernah membawa kembali apa yang sudah hilang. Meratap tidak akan pernah membawa kebahagiaan. Meratap hanya membuat kesedihan kita semakin terpuruk jauh lebih dalam. Batasi waktu untuk bersedih. Menangislah kalau perlu sepuasnya. tetapi setelah itu, bangun kembali hidup kita.

Jadi, ketika kehilangan, bersedihlah secukupnya, terima kenyataan tersebut bahwa kita tidak memiliki lagi apa yang kita cintai itu, lalu kembalilah berjalan. Jangan hanya diam karena hal itu akan membawa luka kita karena kehilangan justru semakin dalam. Pikirkan sesuatu dan lakukan sesuatu.

Sibukkan diri kita dengan melakukan apa saja. Lambat laun, nanti kita akan merasa terbiasa dengan keadaan kehilangan dan mulai menerimanya.
(Tulisan -Ara- The Amazing Of Ikhlas)

Baca Juga : Hidup Ibarat Seperti Ransel

1 comment:

  1. "JUDI POKER | TOGEL ONLINE | TEMBAK IKAN | CASINO | JUDI BOLA | SEMUA LENGKAP HANYA DI : WWW.DEWALOTTO.CLUB
    DAFTAR DAN BERMAIN BERSAMA 1 ID BISA MAIN SEMUA GAMES YUKK>> di add WA : +855 69312579 "

    ReplyDelete