Thursday, February 14, 2019

REVIEW BUKU | MENJADI PRIBADI MENARIK DALAM SEHARI - Penulis Tera Wafa


Assalamualaikum man teman...
Sebenarnya buku ini sudah sekitar setahun yang lalu aku beli. Karena saat melihat judul bukunya membuat ketertarikan aku untuk merubah kepribadian diri menjadi lebih baik. Pada saat pertama beli kondisi hati memang lagi tidak bersahabat, yang menyebabkan adanya kegalauan.

Biasalah anak muda yang masih labik untuk menentukan tujuan hidup karena kurangnya motivasi diri. Akhirnya setelah melihat beberapa buku di Gramedia, ketemu jodohnya dengan buku ini yang tidak bosan-bosan sudah aku baca berulang-ulang untuk menumbuhkan semangat dalam diri.

Buku ini karya dari Tera Wafa seseorang yang lahir pada tanggal 17 Agustus 1987, di Pulau Buton, tepatnya di Desa Kapoa, Kecamatan Kadatua, Kabupaten Buton Selatan, Sulawesi Tenggara. Buku "Menjadi Pribadi Menarik dalam Sehari "  menjelaskan bahwa ketrampilan dan pribadi yang berkarakter seharusnya dimiliki oleh setiap orang.

Setelah baca buku ini kita akan banyak mendapatkan manfaat yang berharga, diantaranya : (1) Mengenal 37 cara praktis memunculkan daya tarik dalam diri kita (2) Mengetahui pengalaman praktis dan unik yang pernah dialami oleh segelintir manusia yang piawai menarik hati orang di sekitarnya (3) Mengetahui jenis-jenis sifat negatif yang perlu dihilangkan, sekaligus cara menghilangkannya (4) Menemukan hal-hal baru yang berhubungan dengan metode interaksi, seperti cara mengenal bahasa tubuh, cara memberikan kritikan yang konstruktif, pentingnya menerima pendapat orang lain, dan lain sebagainya.

Aku pribadi sih saat membaca halaman pertama merasakan energi positif untuk selalu semangat ingin berkembang menjadi pribadi yang lebih baik. Salah satu isi cerita di buku ini tentang menjadi pribadi yang karismatik yaitu menjauhkan diri dari sikap mengucilkan diri.

Salah satu alasan kenapa seseorang perlu belajar ilmu menjadi pribadi karismatik adalah agar menjauhkan dirinya dari sikap mengasingkan diri. Hidup di dunia memang banyak tantangan dan cobaannya. Seseorang kadang lebih memilih untuk mengasingkan diri daripada harus menghadapi musibah yang terjadi ditengah-tengah masyarakatnya.

Ciri-ciri orang yang mengucilkan diri adalah memutus tali hubungan dengan orang lain, menghindari celaan, dan takut dimusuhi. Diantara faktor utama yang mendorong seseorang ingin mengucilkan diri adalah tidak tahan dengan gangguan manusia.

Apalagi jika seseorang cepat sensitif dan mudah tersinggung, keinginan untuk mengucilkan diri pasti akan bertambah sehingga mengucilkan diri menjadi kebiasaannya dan mendarah daging dalam jiwanya. Padahal, agama tidak pernah mengajarkan penganutnya untuk mengucilkan diri.

Kata Ibnu Khaldun manusia adalah makhluk sosial. Pergaulan dengan manusia lainnya tidak dapat dihindari. Sekalipun dizalimi dan disakiti oleh orang lain, pergaulan haus tetap dijaga dan sabar menghadapi perbuatan orang disekitar. Jangan minder percaya diri saja setiap orang pasti punya kekurangan dan kelebihan dan bagaimana kita menjadikan kelebihan yang kita miliki untuk menutupi kekurangan yang kita punya.

"Seorang mukmin yang bergaul dengan orang lain dan bersabar atas kejahatan mereka lebih baik dari seorang mukmin yang tidak pernah sama sekali bergaul dengan manusia, dan tidak mau sabar atas kejahatan mereka." (HR.Bukhari).

Ada salah satu bab dalam buku ini yang berjudul  "Menahan Amarah" tentang terpenggal kisah bagi para orang tua yang kebingungan mengatasi kemarahan anaknya yang masih kecil, mungkin cerita berikut dapat menjadi rujukan bagaimana cara mengontrol kemarahan anak yang datang secara tiba-tiba.

Alkisah ada seorang ayah yang kesulitan mengatasi kemarahan anaknya. Namun pada akhirnya, sang ayah mendapat ide yang cemerlang. Sang ayah menyuruh anaknya menancapkan paku diatas dinding disaat marah. Anak kecil itu pun mematuhi perintah ayahnya. Ia mulai menancapkan satu paku di dinding setiap kali gelombang amarahnya naik. Jika amarahnya muncul berulang-ulang, maka tancapan pakunya akan semakin bertambah.

Di hari pertama pemandangan dinding itu terlihat sangat mengerikan karena dipenuhi oleh tancapan sejumlah paku yang acak-acakan. Pemandangan yang mengerikan itu tak lain adalah hasil dari kegelisahan sang anak. Anak kecil itu pun mulai prihatin dengan pemandangan tembok itu.

Dari kejadian itu, anak kecil itu mulai menyadari resiko masalah yang akan dihadapinya jika ia masih menancapkan paku diatas dinding. Seiring dengan bergantinya waktu, perlahan-lahan anak kecil itu mulai mengurangi jumlah tancapan paku di dinding.

Sampai suatu saat ia tidak pernah sama sekali menancapkan paku di dinding itu. Setelah berhasil melakukan itu, ia bergegas menuju ayahnya dengan perasaan riang gembira dan berkata, "lihatlah Ayah, hari ini saya tidak lagi menancapkan paku di dinding itu."

Lalu Ayahnya yang bijak itu menjawab,"Baiklah, sekarang kita akan mengubah latihan kita. Lakukanlah sebaliknya dari yang pernah engkau lakukan sebelumnya . Setiap hari ketika engkau tidak marah dan tidak merasakan ledakan emosi yang datang secara tiba-tiba, cabutlah satu paku dari dinding itu."

Pada awalnya, anak kecil itu merasa ngeri memperhatikan dinding yang dipenuhi oleh tancapan paku. Namun, demi mematuhi keinginan sang ayah, ia pun mulai latihan. Begitulah sang anak mulai latihannya dengan melepaskan jumlah paku satu persatu, hingga membuat hatinya berangsur membaik.

Keinginannya untuk menuruti gelombang emosinya sudah dapat ia kalahkan. Ia merasa kejiwaannya telah pulih kembali dan jumlah tancapan paku di dinding semakin berkurang. Suatu ketika sang anak pun bergegas menuju ayahnya. Dalam raut wajahnya, tampak sebuah kebahagiaan yang bercampur kemenangan. Anak itu berkata,"Ayah, lihatlah tancapan paku-paku yang ada dinding itu telah hilang, dan hari ini aku senang sekali."

Sang Ayah hanya tersenyum dan meraih tangan anaknya untuk mendekati dinding itu, sambil berkata,"Nak, letakkanlah jari-jarimu di lubang-lubang itu. Apakah engkau merasakannya?" Anak kecil itu pun tersimpuh malu, dan berkata,"betul Ayah, lubang-lubang ini adalah kenangan dari hari-hari burukku. Sang Ayah menjawab,"Nak, kesalahan yang pernah kita lakukan akan menyerupai lubang-lubang ini. Camkanlah bahwa sesungguhnya emosi dan amarah akan menyimpan luka dihati orang lain selamanya."

Jika kita menikam seseorang dengan pisau kemudian mencabutnya sambil meminta maaf beribu-ribu kali kepadanya, maka sungguh ucapan maaf yang kita ucapkan tak akan bisa menutupi luka tusukan itu. Tubuh yang sudah kita lukai tidak akan pernah kembali lagi seperti semula, dan justru meninggalkan bekas luka yang tidak akan hilang selamanya.

Seperti juga halnya kita sudah berbuat baik setiap saat kepada seseorang, kemudian menyakiti hatinya hanya sekali saja, maka semua kebaikan yang kita lakukan selama puluhan tahun akan terhapus saat itu juga dan kita dianggap sebagai orang yang tidak baik..

Kita mungkin akan berkata dalam hati setelah menyakiti orang lain,"Ah, nanti hatinya yang terluka akan sembuh juga kok."Memang biasanya luka akan sembuh, tetapi akan meninggalkan bekas yang akan terus dikenang sampai mati. Hal itu juga tentu berlaku pada hati ketika dilukai oleh orang lain.

Kisah diatas mengajarkan bahwa lebih baik dibicarakan baik-baik jangan sampai ada dendam diantara kita lebih baik kalau lagi marah mencoba untuk menyelesaikan dengan kepala dingin atau sebelum mau marah ucapkan istighfar.

Masih banyak lagi bab-bab yang menarik seperti bersedekah waktu, menjadi orang bijak, memahami bahasa tubuh, berpenampilan elegan dan lain sebagainya. Ini buku bagus untuk memotivasi kita saat lagi down dan merubah cara pandang kita terhadap orang disekitar kita.

Untuk penutup Peluru nasihat yang paling aku suka dalam buku ini "Anda perlu percaya bahwa kemarin adalah sejarah, esok adalah misteri, dan saat ini adalah anugerah (Guru Oogway).

Baca Juga : Cinta Yang Tak Biasa

1 comment:

  1. "JUDI POKER | TOGEL ONLINE | TEMBAK IKAN | CASINO | JUDI BOLA | SEMUA LENGKAP HANYA DI : WWW.DEWALOTTO.CLUB
    DAFTAR DAN BERMAIN BERSAMA 1 ID BISA MAIN SEMUA GAMES YUKK>> di add WA : +855 69312579 "

    ReplyDelete