Saturday, February 9, 2019

CARA BERPIKIR SEORANG KAKEK YANG MENENTUKAN KESUKSESAN - Coretan Inspirasi

" Hanya saja, setiap masalah yang datang tidak pernah bertujuan menjatuhkanmu. Tujuannya sederhana, Mengajarkanmu sesuatu. Kebijakan, kesabaran, kebahagiaan setelahnya. Kadang hanya itu, tapi kadang juga, kamu yang lebih fokus pada keterpurukannya sehingga melupakan makna di baliknya." (Kutipan -Ara- The Amazing Of Ikhlas).

Seorang kakek berjanggut panjang yang hidup di sebuah desa. Dia memiliki dua orang cucu yang tinggal bersamanya. 

Pada suatu ketika, sang kakek tertidur pulas di ranjang kamarnya. Kedua cucu melakukan hal yang tidak seharusnya dilakukan: mereka mengoleskan potongan terasi busuk ke janggut kakek.

Pada sore harinya kakek terbangun dan mencium bau terasi yang tak sedap. Sambil bersungut marah, ia berteriak,"Kamar ini bau terasi!". Ia lalu mencari tahu dari mana bau terasi tersebut. 

ia mencarinya di bawah kasur, di sudut-sudut kamar, di lemari. Hampir semua pelosok kamar dijelajahi kakek itu, tapi tetap tidak ditemukan terasi.

Dia berdalih ke ruangan lain di rumah itu. Satu per satu dijelajahi untuk mencari terasi. Bahkan semua terasi di dapur dibuangnya. 

Tapi tetap saja, dia mencium bau terasi. Akhirnya sang kakek menyerah. Dia memutuskan untuk keluar dari rumah saja sampai baunya menghilang. 

Tapi bahkan di luar rumah pun, tetap bau terasi. Dia sampai berjalan jauh dari rumah, tetap saja bau terasi.

Akhirnya sang kakek berteriak,"Dunia ini bau terasi!" 

Pertama harus diubah tentang kita adalah cara pandang. Jangan sampai hanya karena di bawah hidung kita ada olesan terasi, lalu kemudian kita menyimpulkan bahwa seluruh dunia ini, mengeluhkan pekerjaan, mengeluhkan hujan, mengeluhkan keluarga, mengeluhkan teman kerja, dan lain sebagainya.

Jika kita selalu mengeluh, mungkin bukan salah dunia dan orang-orang di sekitar kita. Mungkin ada kesalahan dalam diri kita sendiri. 

Bukankah kalau semua makanan terasa tidak enak, berarti bukan salah semua makanan? Berarti lidah kita yang bermasalah.

Paradigma itu seperti kacamat. Kalau kita memiliki paradigma yang tidak lengkap tentang diri sendiri dan dunia, itu sama seperti mengenakan kacamata dengan warna kaca yang salah. 

Lensanya akan memengaruhi pandangan kita terhadap apa pun yang kita lihat. Akibatnya, apa yang kita dapat dan kita percayai adalah apa yang kita lihat melalui kacamata tersebut.

Kalau seseorang percaya bahwa dirinya kurang pandai maka dia memang akan jadi kurang pandai. Kalau kita percaya bahwa rekan kerja kita kurang cakap dalam pekerjaannya, kita akan mencari bukti-bukti untuk membenarkan perkiraan kita. 

Dan, meskipun pada akhirnya ternyata dia bisa membuktikan bahwa dia mampu mengerjakan pekerjaannya, kita akan tetap berpendapat dan terus mencari bukti bahwa dia salah. Semua karena sejak awal kita selalu menganggapnya demikian. 

Jadi, paradigma adalah awal dari semua hal. Jika mau mengubah takdir hidup, paradigmanya harus berubah. Jika mau menikmati pekerjaan, paradigmanya harus berubah. 

Jika mau ikhlas, paradigmanya harus diubah. Begitu juga jika mau sukses, paradigmanya yang harus diubah. (Tulisan-Ara- Buku The Amazing of Ikhlas).

Baca Juga : Kisah Wanita Menolak Bantuan Ketika Terjadi Banjir

0 comments:

Post a Comment